RADARMAGELANG.ID, Wonosobo– Rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201 terus berlangsung. Kali ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo menggelar prosesi sakral pengambilan air suci (Tirta Suci) dari tujuh sumber mata air purba (Tuk Pitu) yang tersebar di wilayah setempat pada Kamis (16/7/2026) .
Ritual adat yang terus dijaga kelestariannya ini dimulai sejak pagi hari. Adapun ketujuh sumber mata air bersejarah yang diambil airnya meliputi Tuk Bimolukar (Dieng), Tuk Goa Sumur (Dieng), Tuk Surodilogo (Kertek), Tuk Kaliasem (Watumalang), Tuk Mudal (Mojotengah), dan Tuk Tempurung (Kaliwiro).
Lokasi-lokasi tersebut dipilih untuk mewakili arah mata angin dan dianggap memiliki nilai spiritualitas dan sejarah kuat yang berkaitan erat dengan sejarah Wonosobo.
Prosesi diawali dengan upacara permohonan restu di masing-masing lokasi mata air oleh jajaran Pemkab Wonosobo kepada para sesepuh desa setempat.
Setelah doa lintas keyakinan dipanjatkan, air suci diambil secara khidmat menggunakan gayung bambu khusus (siwur) dan ditampung di kuali tanah liat (klenting) yang ditutup kain mori putih.
Rombongan pembawa air tampil kompak mengenakan busana adat Jawa lengkap.
Dari tujuh penjuru mata air tersebut, air suci dibawa menuju pusat kota untuk disatukan di Sasana Adipura, kompleks Pendopo Kabupaten dalam prosesi birat sengkolo.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat mengatakan tradisi ini merupakan simbolisasi penting dari konsep manunggaling rasa atau persatuan tekad seluruh elemen masyarakat.
"Air adalah sumber kehidupan utama yang harus terus kita rawat bersama. Melalui prosesi Tirta Suci Tuk Pitu ini, kita menyatukan elemen sejarah, spiritualitas, sekaligus meneguhkan tekad kolektif seluruh warga untuk terus menghidupi tanah kelahiran dengan penuh cinta dan harmoni," ujar Fahmi usai mendampingi prosesi.
Ia menambahkan, air suci yang telah disatukan akan disemayamkan di kompleks pendopo.
Air tersebut disiapkan untuk prosesi penjamasan pusaka daerah serta upacara ritual Birat Sengkolo yang diagendakan mendekati hari puncak peringatan Hari Jadi.
Selain memelihara tradisi kultural, Disparbud Kabupaten Wonosobo juga menegaskan bahwa pelaksanaan ritual tahunan ini membawa misi ekologis yang krusial.
Melalui momentum kesucian air ini, pemerintah mengajak masyarakat luas untuk aktif menjaga dan melestarikan kawasan tangkapan air serta hutan lindung di lereng Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan dataran tinggi Dieng agar mata air purba Wonosobo tetap lestari hingga generasi mendatang. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo