RADARMAGELANG.ID, Wonosobo— Sisi lain dari pesona keindahan embun upas atau embun es di Dataran Tinggi Dieng menyisakan kepedihan bagi sektor pertanian setempat.
Di saat ribuan wisatawan berbondong-bondong datang demi menyaksikan hamparan kristal es layaknya musim dingin di Eropa, para petani kentang justru harus gigit jari menyaksikan tanaman mereka mati.
Fenomena alam yang kerap disebut upas atau racun bagi tanaman ini kembali melanda kawasan Dieng.
Lahan yang terletak di kawasan lembah datar memiliki risiko kerusakan paling fatal. Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah adalah Desa Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Wonosobo.
Slamet, seorang pekerja penggarap lahan di Dieng Wetan, mengungkapkan kontur tanah sangat menentukan tingkat keselamatan tanaman kentang dari serbuan embun upas.
"Kalau lahan yang punya kontur kemiringan (lereng) relatif lebih aman. Meskipun terkena embun es, dampaknya tidak begitu parah. Tapi kalau sudah di kawasan lembah dengan hamparan luas, bisa dipastikan tanaman kentang akan langsung layu dan mati setelah terkena embun upas," ujar Slamet saat ditemui, Rabu (15/7/2026).
Menurut Slamet, jika suhu udara terus merosot ekstrem hingga melewati minus 6 derajat Celsius, tingkat kerusakan mencapai puncaknya. Petani dipastikan harus bersiap menanggung kerugian total karena tanaman mati sebelum masa panen tiba.
Bagi petani Dieng, modal untuk menanam kentang tidaklah sedikit. Biaya operasional yang tinggi membuat kegagalan panen akibat embun upas menjadi momok yang sangat menakutkan.
Slamet membeberkan, untuk setiap 1.000 meter persegi lahan, petani setidaknya harus merogoh kocek hingga Rp10 juta. Jumlah tersebut tinggal dikalikan dengan total luas lahan yang mereka miliki.
Tingginya modal biaya tanam ini juga dibenarkan oleh perbankan daerah yang selama ini menyokong pembiayaan para petani. Direktur Umum dan Kepatuhan PT BPR BKK Wonosobo, Bambang Nugroho, menyebutkan mayoritas petani kentang di Dieng mengandalkan pinjaman bank untuk memulai musim tanam.
"Untuk satu hektare lahan yang ditanami kentang, rata-rata petani akan menghabiskan anggaran sekitar Rp80 juta," jelas Bambang.
Mengingat risiko gagal panen akibat faktor alam seperti embun upas ini sangat tinggi, perbankan telah menyiapkan langkah antisipasi agar tidak mencekik perekonomian petani.
Ia menegaskan PT BPR BKK Wonosobo berkomitmen untuk memberikan kelonggaran bagi para debitur yang terdampak bencana musiman ini.
"Jika ada petani yang mengalami kerugian akibat embun upas, biasanya dari pihak bank akan melakukan relaksasi (keringanan cicilan atau penyesuaian struktur kredit)," tandasnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo