RADARMAGELANG.ID, Wonosobo – Napas lega dirasakan para peternak unggas di Kabupaten Wonosobo. Di tengah bayang-bayang tingginya biaya produksi, Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (Dispaperkan) Kabupaten Wonosobo menggandeng Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah menyalurkan 20 ton jagung pipil kering bersubsidi, Senin (13/7/2026).
Langkah taktis melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ini dipusatkan di halaman parkir Kantor Dispaperkan Wonosobo.
Sebanyak 40 peternak mikro ayam pedaging dan petelur yang tergabung dalam Asosiasi Peternak Layer Wonosobo menjadi sasaran utama penerima manfaat.
Dalam program yang bersumber dari APBD Provinsi Jawa Tengah tersebut, jagung pipil kering dilepas dengan harga Rp 5.500 per kilogram.
Baca Juga: Harga Telur Anjlok Rp17 Ribu per Kg, Peternak Tak Kuat Menahan Rugi
Angka ini terpaut cukup jauh dari harga pasar saat ini yang masih bertengger di kisaran Rp 6.500 per kilogram.
Selisih harga Rp 1.000 per kilogram ini diharapkan bisa menekan biaya produksi yang fluktuatif.
Kepala Dispaperkan Kabupaten Wonosobo, Dwiyama Satyani Budyayu, menegaskan intervensi hulu ini merupakan wujud nyata kehadiran pemerintah dalam menjaga eksistensi peternakan rakyat.
Mengingat, pakan merupakan komponen paling krusial yang menyedot hingga 60 sampai 70 persen dari total biaya produksi peternak.
"Paling tidak ini bentuk perhatian pemerintah kepada para peternak di Wonosobo agar bisa sedikit meringankan beban produksi mereka," ujar Dwiyama.
Dispaperkan berkomitmen terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah agar kuota jagung bersubsidi untuk Kabupaten Wonosobo bisa ditingkatkan pada periode berikutnya.
Dengan demikian, jangkauan manfaat program ini bagi peternak lokal bisa semakin luas.
Fluktuasi harga pakan selama ini memang menjadi momok yang menentukan hidup-mati usaha peternakan rakyat.
Melalui pengendalian biaya produksi di tingkat hulu ini, peternak diharapkan mampu mempertahankan keberlanjutan usaha mereka sekaligus menjaga pasokan telur dan daging ayam yang stabil bagi masyarakat.
Eko Saputro, salah seorang peternak asal Kecamatan Kertek, mengaku sangat terbantu dengan adanya program SPHP ini.
Bagi Eko dan rekan-rekannya, intervensi harga tersebut menjadi stimulus penting agar dapur produksi mereka tetap mengepul di tengah dinamika pasar.
"Biaya pakan itu pengeluaran terbesar kami. Bantuan ini jelas mengurangi beban dan membuat kami lebih bersemangat bertahan di tengah ketidakpastian harga pasar. Harapan kami, kegiatan seperti ini bisa digulirkan lebih sering," ungkap Eko optimistis.
Sinergi hulu-hilir antara Pemprov Jateng dan Pemkab Wonosobo ini diharapkan tidak hanya menjadi penyelamat jangka pendek, namun juga mampu membangun fondasi ketahanan pangan daerah yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo