RADARMAGELANG.ID, Wonosobo– Upaya pelestarian domba Wonosobo (dombos) dalam satu dekade terakhir membuahkan hasil signifikan.
Populasi ternak khas lereng Gunung Dieng ini melonjak tajam hingga 700 persen. Jika pada 2016 populasi dombos hanya berkisar 2.000 ekor, kini di tahun 2026 jumlahnya menembus angka 16.000 ekor.
Melesatnya populasi ini tidak lepas dari konsistensi Pemkab Wonosobo dalam menggelar ruang apresiasi bagi para peternak.
Salah satunya lewat Kontes Dombos 2026 yang digelar di kawasan Jalan Merdeka, Alun-alun Wonosobo, Sabtu (4/7/2026).
Baca Juga: Kisah Sukirno, Petani Kreatif yang Sukses Kembangkan Usaha Tembakau dan Ternak Dombos
Event tahunan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo.
"Hasil pelestarian ini sangat terlihat. Lonjakan populasi hingga 16.000 ekor ini menjadi bukti bahwa antusiasme masyarakat sangat tinggi. Ini sekaligus menegaskan bahwa dombos memiliki prospek ekonomi yang sangat menjanjikan," ujar Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Dispaperkan) Kabupaten Wonosobo, Dwiyama SB, usai membuka acara.
Menurut dia, kontes ini menjadi sarana edukasi massal, promosi, serta upaya sistematis untuk meningkatkan kualitas genetik dombos.
Pemkab berharap komoditas unggulan lokal ini mampu menjadi motor penggerak ekonomi pedesaan sekaligus menyokong ketahanan pangan nasional.
Ketua Panitia Kontes Dombos, Fajri Dwi Rezarto, mengungkapkan pelaksanaan kontes kelima ini telah naik kelas menjadi ajang berskala nasional.
Ratusan peternak dari berbagai penjuru Pulau Jawa tampak memadati area kontes. Seperti dari Banyuwangi, Blitar, Kediri, Bojonegoro, hingga Jombang Jawa Timur.
"Kami melombakan total 11 kelas, mulai dari kategori anakan, bakalan, dewasa, hingga kelas bobot ekstrem," beber Fajri.
Banyaknya kelas bobot ini sengaja ditonjolkan untuk mendorong posisi dombos sebagai domba pedaging unggul.
Dombos memang memiliki keunikan tersendiri yang telah diakui lewat Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai rumpun asli Indonesia.
Karakteristik utamanya terlihat pada garis muka yang cembung, telinga yang mengarah ke samping, pertumbuhan bulu wol yang lebat di sekujur tubuh, serta ekor yang relatif kecil.
Kombinasi eksklusivitas dan kualitas genetik inilah yang dongkrak nilai ekonominya di pasaran.
Saat ini, harga anakan dombos kualitas semenjana saja sudah dibanderol mulai Rp 2,5 juta hingga belasan juta rupiah.
Sementara untuk kategori dewasa, harganya bisa menembus puluhan juta rupiah. Bahkan, untuk pejantan yang menyandang gelar juara kontes dan memiliki rekam silsilah yang jelas, nilainya bisa selangit.
"Pernah ada yang laku terjual hingga lebih dari Rp 100 juta," pungkas Fajri. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo