RADARMAGELANG.ID, Wonosobo— Prosesi Kirab Pasrah Tampi Panji yang menandai dimulainya rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-201 Kabupaten Wonosobo dimaknai bukan sekadar pelestarian tradisi.
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menegaskan kirab tersebut menjadi pengingat bahwa semangat persatuan, gotong royong, dan pengabdian harus menjadi fondasi dalam melanjutkan pembangunan daerah.
"Kirab Panji dan Pusaka ini pada hakikatnya memiliki makna yang mendalam.
Bukan hanya sekadar serah terima simbol daerah. Melainkan meneguhkan bersama nilai-nilai luhur yang senantiasa terjaga dalam perjalanan panjang sejarah daerah," ujar Afif pada prosesi Kirab Pasrah Tampi Panji dan Pusaka di Pendopo Kabupaten Wonosobo, Kamis (2/7/2026).
Empat panji yang dikirab, yakni Sang Saka Dwi Warna, Catragung Pangayom, Tombak Karawelang Katentreman, dan Panji Gegunungan Praja.
Kesemuanya merupakan satu kesatuan simbol yang mencerminkan nilai-nilai pemerintahan dan kehidupan masyarakat Wonosobo.
Pembangunan daerah tidak dapat dijalankan oleh pemerintah semata, tetapi membutuhkan sinergi antara eksekutif, legislatif, yudikatif, serta seluruh elemen masyarakat.
Afif mengajak masyarakat memaknai momentum setelah dua abad perjalanan Kabupaten Wonosobo sebagai titik penguatan untuk melanjutkan pembangunan dengan tanggung jawab yang lebih besar.
Tema Hari Jadi ke 201 tahun ini, "Nyawiji Makarti Wonosobo Loh Jinawi", menegaskan keberhasilan pembangunan hanya dapat dicapai melalui kebersamaan, sinergi, dan gotong royong seluruh elemen masyarakat.
Terutama dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi.
Panji-panji akan dibawa berkeliling ke 15 kecamatan dan 265 desa.
Langkah itu dilakukan agar semangat Hari Jadi Kabupaten Wonosobo dapat dirasakan hingga ke seluruh pelosok wilayah.
Pada peringatan tahun ini, Pemerintah Kabupaten Wonosobo memutuskan tidak mengadakan Gelar Budaya di masing-masing kecamatan.
Karena menyesuaikan terhadap kondisi ekonomi yang dihadapi masyarakat. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo