RADARMAGELANG.ID, Wonosobo– Federasi Jeep Wonosobo buka suara terkait kecelakaan yang melibatkan armadanya di Desa Menjer, Kecamatan Garung beberapa waktu lalu.
Ketua Federasi Jeep Wonosobo, Sucipto memastikan tidak ada ruang toleransi bagi pengemudi yang nekat beroperasi saat kondisi fisik tidak fit. Ia mengakui insiden tersebut murni akibat faktor kelelahan.
Pihak federasi kini tengah merombak total sistem standarisasi pengemudi untuk memastikan tragedi serupa tidak kembali terulang di jalur wisata Wonosobo.
Sucipto menceritakan, saat peristiwa itu terjadi, dirinya sedang berada di luar kota. Begitu mendengar kabar tersebut, ia langsung berbalik arah menuju lokasi kejadian.
Tiba di Desa Menjer selepas Magrib, situasi di lapangan sudah telanjur ramai, baik oleh massa maupun pemberitaan di media sosial.
"Begitu melihat rekaman CCTV, saya langsung tahu ini kesalahan fatal. Benar-benar salah. Niat saya ke situ (menemui warga dan korban) hanya satu, meminta maaf atas jatuhnya korban dan gesekan yang sempat terjadi dengan masyarakat," ujar Sucipto saat dikonfirmasi, kemarin.
Baca Juga: Kasus Jeep Wisata Tabrak Pengendara Motor, Warga Menjer Memanas, Dewan Desak Jeep Wisata Diatur
Pertemuan malam itu langsung membuahkan kesepakatan tertulis di atas meterai. Federasi menjamin seluruh biaya pengobatan korban di rumah sakit hingga sembuh total. Termasuk ganti rugi atas kerusakan sepeda motor maupun aset warga yang terdampak.
Terkait kompensasi bagi keluarga korban, Sucipto mengambil kebijakan longgar. Mengingat korban merupakan tulang punggung keluarga yang memiliki anak dan istri, federasi tidak membatasi nominal santunan di awal.
"Kami tidak mau mendikte nominal di forum itu. Kami berikan toleransi. Nanti dianalisis, berapa lama korban tidak bisa aktif bekerja, di situ kebijakan kami berikan. Intinya biar disepakati bersama pihak keluarga," imbuhnya.
Disinggung mengenai kondisi sang pengemudi saat kejadian, Sucipto membantah rumor yang menyebut sopir dalam pengaruh alkohol atau bermain ponsel.
Berdasarkan hasil investigasi internal dan pemeriksaan fisik, sang sopir murni mengalami kantuk berat akibat kelelahan fisik.
"Ditanya siapapun, jawabannya hanya satu, dia mengantuk berat sejak dari rute Swiss Van Java. Kami juga sempat mengecek baunya, takut kalau terpengaruh alkohol, ternyata aman. Ini murni mengantuk yang dipaksakan," beber Sucipto.
Kelelahan mendalam ini dipicu oleh tingginya ritme kerja jeep wisata belakangan ini.
Akibat jadwal (job) wisatawan yang padat, dalam sehari satu armada jeep bisa melayani rute hingga dua sampai tiga kali jalan.
Sopir merasa dilematis karena jika membatalkan pesanan, wisatawan kerap melayangkan protes.
"Sopir ini resmi anggota federasi dan sudah lama menyetir. Kebetulan jip itu milik kakaknya, dia yang mengemudikan. Tapi ini jadi pelajaran berharga. Sehebat apa pun, kalau kondisi tidak fit, jangan dipaksakan. Lebih baik minta maaf batal melayani di awal daripada berujung celaka seperti ini," tegasnya.
Pasca-insiden yang mencoreng citra pariwisata Wonosobo ini, Federasi Jeep Wonosobo berjanji akan melakukan evaluasi total dan pembinaan keras kepada seluruh operator dan pengemudi.
Sucipto menyebut, momentum pahit ini akan dijadikan dasar hukum internal untuk memperketat regulasi.
"Ibarat orang Jawa, ini waktunya ngomai anak (menasihati anak) dengan sangat keras. Kepengurusan federasi sekarang punya alasan kuat untuk menindak tegas," urainya.
Ke depan, Federasi Jeep Wonosobo akan menerapkan standarisasi baru secara ketat melalui audit berkala.
Langkah awal difokuskan pada pembenahan legalitas pengemudi yang wajib mengantongi SIM sah dan sesuai peruntukan.
Selain itu, aspek jam terbang juga diatur ulang, yakni sopir baru dilarang keras langsung menerjang rute ekstrem sebelum dinyatakan lolos masa binaan internal.
Federasi juga akan melakukan analisis mendalam untuk memantau kesiapan fisik pengemudi serta penguasaan armada secara menyeluruh.
"Kami tidak ingin kejadian serupa terulang. Keselamatan wisatawan dan masyarakat lokal adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan alasan mengejar job," pungkasnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo