RADARMAGELANG.ID, Wonosobo –Potret kesehatan masyarakat di Kabupaten Wonosobo cukup menyedihkan, terutama pada kasus perokok.
Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2025, persentase penduduk usia 15 tahun ke atas di Wonosobo yang merokok setiap hari mencapai 37,44 persen.
Angka ini menempatkan Wonosobo di posisi puncak di antara 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Tren ini menunjukkan grafik yang terus meroket. Jika dikomparasi dengan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang berada di angka 36,09 persen, maka dalam waktu tujuh tahun terakhir terjadi lonjakan yang signifikan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Wonosobo, Jaelan, saat dikonfirmasi pada Rabu (24/6/2026) tidak menampik validitas data tersebut.
Menurutnya, temuan Susenas itu bahkan terkonfirmasi melalui hasil screening kesehatan gratis yang dilakukan dinkes di lapangan.
"Kalau mengacu pada hasil screening cek kesehatan gratis kemarin dengan sasaran penduduk usia di atas 7 tahun, angkanya justru lebih mengejutkan, mencapai 42,36 persen. Artinya, realitas di lapangan mengonfirmasi bahwa angka perokok kita memang luar biasa tinggi dan trennya terus naik," ungkap Jaelan.
Satu hal yang paling mencemaskan adalah regenerasi perokok aktif di Wonosobo yang bergerak sangat masif.
Data dinkes menunjukkan, penduduk yang mulai merokok pada rentang usia 15 hingga 19 tahun (usia pelajar) menyentuh angka 45,48 persen.
Jaelan membeberkan faktor lingkungan keluarga dan tradisi lokal menjadi pemicu utama.
Faktor geografis Wonosobo sebagai daerah penghasil tembakau dengan suhu udara yang dingin, membuat aktivitas merokok dianggap sebagai hal lumrah sejak zaman dahulu. Bahkan, ada kebiasaan lokal yang sangat memprihatinkan di tengah masyarakat.
Menjamurnya tren ngelinting dewe (linting sendiri) khas Wonosobo sering kali dianggap lebih aman oleh masyarakat.
Namun, Jaelan meluruskan miskonsepsi tersebut. Secara medis, kandungan tar dan nikotin di dalam tembakau lintingan sama berbahayanya dengan rokok pabrikan.
"Sama saja, basisnya kan tetap tembakau yang dibakar. Malah kalau ditambahkan zat perasa atau campuran lain secara mandiri, benda kimia yang dibakar otomatis lebih banyak. Itu justru menambah risiko kesehatan, termasuk penggunaan vape (rokok elektrik)," tegasnya.
Dampak dari tingginya angka perokok ini tidak melulu soal kepulan asap, melainkan berbanding lurus dengan ambruknya derajat kesehatan warga Wonosobo.
Dinkes mencatat, tingginya paparan asap rokok baik bagi perokok aktif maupun pasif menjadi pemicu utama melonjaknya berbagai penyakit tidak menular (PTM) dan masalah gizi di Wonosobo.
Secara medis, paparan asap rokok berkorelasi kuat dengan tingginya kasus stroke, hipertensi, hingga gagal jantung di Wonosobo.
Tak berhenti di situ, penyakit kardiovaskular dan kanker juga terus membayangi masyarakat.
"Dampak jangka panjangnya tidak bisa dipungkiri. Selain penyakit kronis pada orang dewasa, paparan asap rokok di lingkungan keluarga juga berkontribusi besar pada tingginya kasus stunting pada anak, gizi buruk, hingga kondisi Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil di Wonosobo," pungkas Jaelan. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo