RADARMAGELANG.ID, Wonosobo – Kabupaten Wonosobo tak pernah kehabisan daya tarik bagi para pencinta ketinggian.
Selain Gunung Sindoro dan Sumbing yang sudah melegenda, kini ada satu jagoan baru yang mulai banyak diminati bagi kalangan pendaki.
Yakni Gunung Lemah Surodilogo via Dusun Gerenjeng, Desa Pagerejo, Kecamatan Kertek.
Kawasan Surodilogo sudah diresmikan Dinas Pariwisata sejak tahun 1982. Pengelolaan jalur pendakian menuju puncak Gunung Lemah yang memiliki tinggi berkisar di 1640 mdpl itu baru diintensifkan secara swadaya oleh warga sejak 2025.
Hasilnya, jalur ini langsung viral dan jadi primadona baru, bahkan mulai memikat pendaki mancanegara.
Petugas basecamp Gunung Lemah via Surodilogo, Muslih mengungkapkan gunung ini menyimpan keunikan tersendiri.
Nama Lemah (dalam bahasa Jawa berarti tanah) justru berbanding terbalik dengan kondisi geografisnya.
"Sebenarnya ini gunung batu. Dari hamparan seluas 92 hektare itu, isinya batu semua. Tapi anehnya, tepat di bagian puncak justru berupa tanah subur yang gundukannya mirip tumpeng. Makanya warga menyebutnya Gunung Lemah," beber Muslih, Senin (22/6/2026).
Karakteristik jalurnya terbilang sangat ramah kantong dan ramah fisik. Medan treknya landai, tidak ekstrem, dan hanya memiliki dua pos utama.
Kondisi ini membuat Gunung Lemah sangat aman bagi pendaki pemula, bahkan untuk anak-anak.
Jika cuaca sedang bersahabat, dari puncaknya pendaki disuguhi tiga pemandangan yang istimewa.
Bisa melihat pemandangan secara langsung Gunung Kembang, Gunung Sindoro, hingga Gunung Merapi di kejauhan.
Tak sekadar menawarkan wisata alam, jalur Surodilogo ini sarat akan bumbu sejarah kolonial.
Nama Surodilogo sendiri diambil dari wilayah petilasan pelarian panglima perang Pangeran Sambernyawa (Mangkunegara I), yakni Pangeran Joko Suru, saat masa Geger Sepehi.
Di sana, terdapat Sendang Surodilogo yang dikeramatkan. Konon, mata air tersebut muncul berkat karomah Pangeran Joko Suru yang menancapkan tongkatnya ke bumi untuk berwudu saat dikejar penjajah.
Hingga kini, eksistensi Sendang Surodilogo sangat vital bagi masyarakat Wonosobo.
Air dari sendang ini menjadi salah satu elemen wajib yang diambil dalam prosesi ritual sakral menyambut Hari Jadi Kabupaten Wonosobo setiap tahunnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo