RADARMAGELANG.ID, Wonosobo- Kabupaten Wonosobo menjadi salah satu dari lima kabupaten/kota dampingan UNICEF dalam program percepatan penurunan zero dose imunisasi.
Perwakilan UNICEF Wilayah Jawa dan Bali, Tubagus Arie Rukmantara menegaskan zero dose bukan sekadar persoalan angka cakupan, melainkan berkaitan langsung dengan pemenuhan hak anak.
“Anak yang tidak mendapatkan imunisasi berarti hak tumbuh kembangnya terancam. Imunisasi berkaitan dengan hak kesehatan, pendidikan, perlindungan, bahkan hak anak untuk bermain dan berkembang secara optimal,” ungkapnya dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Lintas Sektor dalam Strategi Mobilisasi Masyarakat untuk Penurunan Zero Dose Imunisasi di Kabupaten Wonosobo,di Front One Harvest Hotel, Selasa (26/1/2026).
Baca Juga: Dua Tahun Cakupan Imunisasi Menurun, Dinkes Wonosobo Gencar Sosialisasi
Ia menjelaskan anak yang tidak diimunisasi lebih rentan terserang penyakit yang dapat menyebabkan disabilitas maupun gangguan tumbuh kembang. Ia optimistis Wonosobo memiliki modal sosial yang kuat untuk mengatasi persoalan zero dose.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan menjelaskan cakupan imunisasi di Kabupaten Wonosobo mengalami dinamika dalam beberapa tahun terakhir.
Pada tahun 2023 cakupan imunisasi tercatat sekitar 40 persen, kemudian meningkat pada 2024 menjadi 66,75 persen. Namun kembali menurun pada 2025 menjadi sekitar 58,7 persen.
Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi capaian tersebut adalah adanya peningkatan jumlah sasaran imunisasi.
“Pada tahun 2024 jumlah sasaran mencapai sekitar 14 ribu anak. Kemudian di akhir tahun 2025 dilakukan pemetaan ulang dan diperoleh sasaran riil sekitar 12 ribu anak,”terangnya.
Jaelan menambahkan program imunisasi juga dipengaruhi oleh keseimbangan antara permintaan dan penawaran layanan kesehatan.
Sedangkan Ketua Pusat Penelitian Kesehatan LPPM Undip, Dr. Ir. Martini, M.Kes. menyampaikan penguatan literasi dan komunikasi publik menjadi kunci penting dalam meningkatkan permintaan masyarakat terhadap layanan imunisasi. (rls/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo