RADARMAGELANG.ID, Wonosobo– Proyek pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Cledok, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, menuai sorotan tajam.
Aktivitas galian tanah yang berjalan sejak 20 April 2026 tersebut memicu longsoran material yang sempat melumpuhkan akses publik, serta menyasar fasilitas kesehatan dan lahan milik warga. Hingga Selasa (26/5/2026), kondisi di lokasi proyek dalam status rawan.
Longsoran itu menurutnya sudah terjadi beberapa kali sejak pembangunan awal dimulai. Hingga kini masih sering terjadi di lokasi yang sama dimana ada pengeprasan tebing di lahan seluas kurang lebih 1000 meter persegi.
Baca Juga: Baru Setengah Jadi, Pembangunan KDMP Desa Kaloran Temanggung Dihentikan Sementara
Meski material longsor yang sempat menutup jalan dan memaksa pemberlakuan sistem buka-tutup telah dibersihkan oleh tim gabungan, ancaman bencana susulan justru kian menganga. Hal itu dipicu oleh minimnya infrastruktur mitigasi di area kupasan tebing.
Koordinator Relawan Penanganan Bencana (RPB) SAR Kecamatan Kaliwiro, Habib, membeberkan fakta terkait proyek tersebut.
Berdasarkan hasil asesmen bersama, proyek tersebut ternyata sama sekali belum menyentuh penguatan struktur tanah.
"Belum ada pengerasan tebing sama sekali. Makanya sangat rawan sekali, bahkan infonya pondasi pun tidak ada anggaran," ungkap Habib saat dikonfirmasi awak media, Selasa (26/5/2026).
Habib merinci, dimensi kerawanan di lapangan tergolong masif. "Tebing atas itu tingginya sekitar 5 sampai 15 meter, lalu di bawah koperasi ada sekitar 5 meter, dan tebing di bawah jalan itu mencapai 20 meter. Kalau hujan lagi, potensinya sangat besar untuk longsor susulan," jelasnya mendetail.
Dampak dari tidak adanya dinding penahan tanah (senderan) ini sudah mulai memakan korban fisik.
Selain membuat jalanan licin akibat kepungan lumpur, timbunan tanah disinyalir telah merangsek dan menghantam dinding Gedung Pos Kesehatan Desa (PKD) Cledok serta merusak lahan produktif milik warga setempat.
Menyikapi ancaman riil tersebut, tim gabungan langsung memanggil pihak pengelola, kontraktor, serta konsultan proyek dalam sebuah musyawarah darurat.
Hasilnya, pihak pengembang didesak segera melakukan tindakan preventif jangka pendek demi keselamatan warga.
"Rencana jangka pendek, kami minta segera dilakukan penutupan area rawan longsor dengan terpal untuk meminimalisasi resapan air. Selain itu, harus dipasang rambu-rambu dan penerangan jalan darurat agar pengguna jalan aman saat melintas malam hari," tegas Habib.
Kendati demikian, SAR Kaliwiro menekankan bahwa penanganan darurat menggunakan terpal tidak akan menyelesaikan akar masalah.
Pihaknya menuntut komitmen jangka panjang berupa pembangunan struktur permanen yang kokoh agar proyek ketahanan pangan ini tidak mengorbankan keselamatan jiwa masyarakat.
"Untuk jangka lama, harus ada senderan. Kami minta pemerintah desa dan pihak penggarap memprioritaskan kepentingan masyarakat. Utamanya untuk pengguna jalan, keamanan Gedung PKD, dan pemulihan tanah warga yang tertimbun agar segera terselesaikan," pungkasnya.
Saat ini, jalan raya Cledok sudah kembali dapat dilalui secara normal. Namun, tim gabungan masih disiagakan untuk melakukan pemantauan berkala guna mengantisipasi pergerakan tanah susulan yang bisa terjadi sewaktu-waktu. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo