RADARMAGELANG.ID, Wonosobo— Pemerintah Kabupaten Wonosobo mulai menjaring calon peserta didik sekolah rakyat untuk tahun ajaran 2026/2027.
Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos PMD) Kabupaten Wonosobo, Harti, menyatakan program sekolah rakyat ini diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga yang masuk dalam kategori desil 1 dan desil 2 pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Kategori tersebut merujuk pada kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah atau sangat miskin.
"Desil 1 dan 2 itu masyarakat yang benar-benar tidak mampu. Mereka adalah kelompok rentan yang paling membutuhkan kehadiran negara agar anak-anaknya tidak ikut terperangkap dalam lingkaran kemiskinan," kata Harti, Senin (25/5/2026).
Meski demikian, Harti menjelaskan sistem penerimaan tetap membuka ruang bagi calon siswa di luar data DTSEN yang berada dalam kondisi rentan atau mengalami dinamika sosial-ekonomi khusus.
Kelompok ini mencakup keluarga yang mengalami kemerosotan ekonomi mendadak, anak yatim piatu, korban bencana alam, hingga warga yang terkendala administrasi kependudukan.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Wonosobo Senilai Rp 1,1 Triliun Dikebut, Target Juni Selesai
"Misalnya keluarga yang mengalami penurunan ekonomi, kehilangan orang tua, terdampak bencana, atau terkendala administrasi kependudukan sehingga belum masuk dalam data DTSEN masih ada kesempatan mengajukan. Nantinya, tim akan melakukan verifikasi terhadap kondisi riil calon siswa," jelasnya.
Untuk memastikan bantuan ini tepat sasaran, pemerintah daerah menerapkan sistem seleksi berlapis melalui asesmen dan verifikasi lapangan.
Proses penapisan (screening) melibatkan berbagai elemen, mulai dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), aparatur pemerintah desa, hingga Badan Pusat Statistik (BPS).
Tim gabungan akan memeriksa silang kesesuaian data pribadi, kondisi fisik hunian, serta pendapatan riil orangtua.
Rintisan program Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 35 sebenarnya telah berjalan sejak Agustus 2025 memanfaatkan fasilitas Balai Latihan Kerja (BLK) Wonosobo sebagai ruang kelas sementara.
Saat ini, sebanyak 100 siswa telah ditampung dalam sistem pembelajaran berbasis asrama tersebut.
Pada tahun ajaran baru mendatang, pemerintah daerah memproyeksikan perluasan daya tampung dengan membuka masing-masing tiga rombongan belajar (rombel) untuk tiga jenjang pendidikan, yakni SD, SMP, dan SMA.
Secara paralel, pembangunan fasilitas fisik sekolah rakyat permanen di Desa Candiyasan, Kecamatan Kertek, terus dikebut.
Hingga akhir Mei 2026, progres konstruksi gedung telah mencapai sekitar 45 persen.
Saat ini, fokus pengerjaan diarahkan pada penyiapan instalasi jaringan listrik serta infrastruktur penunjang operasional lainnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo