Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Anemia Remaja Tinggi, Dinkes Wonosobo Perketat Skrining Pelajar

Sigit Rahmanto • Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:04 WIB
Cek Kesehatan gratis (CGJ) untuk para pelajar membantu skrining kesehatan sejak dini. (Istimewa)
Cek Kesehatan gratis (CGJ) untuk para pelajar membantu skrining kesehatan sejak dini. (Istimewa)

 

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo  — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Wonosobo langsung tancap gas di awal trimester kedua tahun 2026.

Berkaca dari evaluasi tahun lalu, pelaksanaan cek kesehatan gratis (CKG) untuk kelompok anak sekolah dan remaja yang biasanya menumpuk di akhir tahun, kini digeber sejak awal tahun. 

Langkah "gasik" ini diambil untuk mendeteksi dini berbagai ancaman penyakit, mulai dari skabies, talasemia, hingga tingginya angka anemia yang menjadi hulu dari persoalan stunting dan angka kematian ibu (AKI).

Hal itu ditegaskan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan, usai menggelar podcast dan cek kesehatan gratis di Pondok Pesantren Rohmatul Ummat, Dusun Wonobungkah, Kelurahan Jlamprang, Wonosobo, Jumat (22/5/2026).

"Tahun 2025 lalu, cakupan kita untuk kelompok remaja dan anak sekolah sebenarnya sangat bagus. Dari target 20 persen, realisasinya mencapai 79,8 persen. Antusiasme sekolah dan pesantren sangat tinggi. Karena itu, di tahun 2026 ini mereka kembali jadi sasaran utama," ujar Jaelan kepada awak media. 

Pergeseran waktu pelaksanaan ini membuahkan hasil signifikan. Berdasarkan data cut-off per 19 Mei 2026, dari target tahunan sebesar 64 persen, Dinkes Wonosobo berhasil mencatatkan capaian proporsional sebesar 24,3 persen melampaui target berkala yang dipatok di angka 22,3 persen.

Bahkan, khusus untuk kelompok anak sekolah dan usia remaja (usia SD/MI hingga SMA/MA/SMK), progresnya sudah merangkak di atas 30 persen.

"Kalau tahun lalu kita harus menunggu bulan Agustus atau September, tahun ini sejak awal tahun sudah bergerak. Alhamdulillah, grafiknya jauh lebih cepat dibanding periode yang sama tahun lalu," imbuhnya.

Pada tahun 2025, Dinkes menemukan tiga kasus remaja berisiko talasemia. Meski secara statistik terlihat kecil di antara ribuan anak yang diperiksa, Jaelan menegaskan pihaknya tidak sekadar melihat angka. 

Tak kalah krusial, hasil skrining ini juga mengonfirmasi tingginya angka anemia (kurang darah) dari tingkat ringan, sedang, hingga berat pada anak sekolah di Wonosobo.

Jaelan menyebut, fakta ini menjadi jawaban logis atas masih fluktuatifnya angka kematian ibu dan persentase stunting.

Data Dinkes mencatat, grafik kematian ibu di Wonosobo masih menyerupai "mata gergaji" naik turun tak menentu. Pada tahun 2023, angka kematian ibu sempat menukik turun di angka 4 kasus.

Namun, pada 2024 melonjak drastis menjadi 11 kasus, dan baru berhasil ditekan kembali menjadi 8 kasus pada 2025 kemarin.

"Grafik yang naik turun seperti gergaji ini menunjukkan ada sesuatu yang harus di selesaikan di hulu. Mengapa terjadi pendarahan saat melahirkan? Ya karena anak-anak remaja kita sudah anemia. Jadi ini berkorelasi (nyambung). Kalau remajanya putri sudah anemia, tidak heran jika stunting kita tinggi dan kasus kematian ibu sulit ditekan secara konsisten," beber Jaelan dengan nada serius.

Menyikapi hal tersebut, Dinkes Wonosobo memastikan tidak akan mengendurkan program "Jumat Berseri" gerakan minum tablet tambah darah (TTD) bersama bagi siswi SMP dan SMA, serta memperketat pengawasan kesehatan bagi para calon pengantin sebelum memasuki fase pernikahan dan kehamilan. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#dinkes wonosobo #jaelan #CKG