RADARMAGELANG.ID, Wonosobo — Pemerintah Kabupaten Wonosobo mengintegrasikan pendidikan karakter dengan transformasi digital sebagai fondasi menyiapkan Generasi Emas 2045.
Langkah ini diambil sekaligus untuk merespons tantangan pemerataan infrastruktur teknologi di wilayah berskala lokal, termasuk di area pinggiran.
Hal itu mengemuka dalam diskusi talk show "Ruang Publik" yang digelar oleh Web TV, Selasa (19/5/2026).
Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo One Andang Wardoyo yang menjadi narasumber di acara tersebut menegaskan, pendidikan karakter merupakan fondasi vital yang tidak boleh dikesampingkan di tengah arus digitalisasi.
Menurut dia, fokus pendidikan saat ini harus bergeser pada pembentukan perilaku, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah (problem solving), bukan lagi sekadar mengejar nilai akademis.
"Pendidikan karakter itu fondasi utama. Menuju Generasi Emas 2045, kita tidak hanya membutuhkan anak-anak yang pintar secara akademis, tetapi yang lebih utama adalah mereka yang memiliki perilaku baik, kreatif, dan mampu memecahkan masalah," ujar Andang.
Meskipun diakui sekda untuk mencapai hal tersebut perlu dilakukan bertahap dan terus menerus. Terlebih tantangan geografis dan infrastruktur internet masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar di Wonosobo.
Untuk mengatasi kesenjangan digital di daerah terpencil, Pemkab Wonosobo tengah mengupayakan perluasan akses internet.
Langkah progresif dilakukan untuk mempermudah masuknya jaringan telekomunikasi ke wilayah blank spot.
"Kami menyadari kendala geografis di Wonosobo. Oleh karena itu, pemerintah bergerak cepat meningkatkan akses internet di daerah terpencil dengan memfasilitasi kemudahan izin pembangunan menara telekomunikasi (tower) serta pemasangan serat optik. Kami juga membuka ruang dan mendorong partisipasi sektor swasta lewat alokasi CSR," jelas One Andang.
Selain itu, pemkab juga secara bertahap mulai melengkapi fasilitas penunjang di sekolah.
"Pemerintah daerah berkomitmen memfasilitasi sekolah-sekolah dengan Papan Digital Interaktif (PID) dan laptop agar adaptasi teknologi ini berjalan optimal," tambahnya.
Di sisi lain, derasnya arus teknologi juga membawa dampak negatif, seperti risiko kecanduan gawai (gadget) pada anak jika tidak diawasi.
Menanggapi hal tersebut, muncul usulan penataan regulasi di tingkat komunal atau desa guna menjaga iklim belajar yang sehat.
"Teknologi adalah alat, namun pengontrolnya tetap ada pada manusia. Kami mendorong adanya regulasi di tingkat desa untuk menetapkan jam belajar masyarakat.
Ini penting untuk membatasi penggunaan gadget pada jam tertentu, agar anak-anak kita tetap fokus belajar dan terasah menjadi pemikir yang kritis, bukan sekadar konsumen konten," tegasnya.
Di tingkat akar rumput, pemanfaatan teknologi mulai diadopsi untuk menyiasati keterbatasan fasilitas fisik.
Sudarwati, guru SMA Negeri 1 Mojotengah, menceritakan kehadiran gawai digital membantu proses belajar-mengajar di sekolahnya.
Ia memanfaatkan teknologi tersebut untuk memfasilitasi simulasi laboratorium virtual.
Langkah ini dinilai efektif mengatasi keterbatasan peralatan sains fisik yang selama ini kerap menjadi kendala di daerah.
"Laboratorium virtual ini menjadi jawaban atas keterbatasan alat praktikum sains fisik yang kami hadapi. Melalui simulasi visual pada papan interaktif, konsep-konsep abstrak yang tadinya sulit dibayangkan kini menjadi lebih riil dan mudah dipahami oleh siswa," kata Sudarwati.
Inovasi serupa juga dilakukan dalam pengenalan mata pelajaran baru, yakni coding dan kecerdasan buatan (KKA).
Guru SMP Negeri 6 Satu Atap (Satap) Kaliwiro, Wahyu Nur Alamsyah, membagikan pengalamannya menyederhanakan konsep coding yang rumit bagi siswa di wilayah pedesaan.
Alih-alih langsung menghadap layar komputer, Wahyu menggunakan analogi kehidupan sehari-hari dan media kreatif berbiaya rendah.
Seperti kardus dan tali rafia. Melalui media interaktif buatan ini, siswa diajak memahami logika berpikir komputasional (computational thinking).
"Kami mencoba mendemistifikasi bahwa coding itu harus selalu di depan komputer canggih.
Dengan kardus dan tali rafia, anak-anak diajak melakukan simulasi logika. Melalui kegiatan praktis yang dekat dengan keseharian mereka, siswa belajar bagaimana melatih computational thinking dan melakukan debugging atau penyelesaian masalah secara mandiri," papar Wahyu.
Melalui program "Wonosobo Asah Cita", penanaman nilai-nilai karakter seperti disiplin dan gotong royong terus diintegrasikan sejak usia dini.
Upaya membangun dunia pendidikan yang adaptif ini pada akhirnya diakui memerlukan kerja kolaboratif yang kuat.
Pendidikan tidak bisa hanya dibebankan pada satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama yang berkelanjutan antara pemerintah daerah, kreativitas guru di kelas, serta pengawasan dari orangtua di rumah. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo