RADARMAGELANG.ID, Wonosobo – Pemerintah Kabupaten Wonosobo mulai menyiapkan basis pemilih pemula untuk Pemilu 2029.
Melalui pendidikan politik, kalangan pelajar dan generasi Z dibekali pemahaman tentang demokrasi sejak dini agar tidak sekadar menjadi pemilih, tetapi juga memahami tanggung jawab sebagai warga negara.
Program tersebut digencarkan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Wonosobo dengan menyasar pelajar SMA sederajat yang dalam tiga tahun mendatang akan memasuki daftar pemilih tetap.
Kegiatan perdana digelar bersama Komunitas Jurnalis Wonosobo (KJW) di Extra Show Cafe, Rabu (13/5/2026).
Kepala Kesbangpol Wonosobo Agus Kristiyono mengatakan, pendidikan demokrasi menjadi salah satu agenda penting untuk menumbuhkan kesadaran politik masyarakat, terutama generasi muda.
Baca Juga: Data Pemilih Temanggung Bertambah 3.883 Orang, Mayoritas dari Pemilih Pemula
Menurut dia, pelajar saat ini merupakan kelompok strategis karena akan menjadi pemilih baru pada kontestasi politik mendatang.
“Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan pendidikan demokrasi bagi kalangan muda, khususnya pemilih pemula. Mereka perlu paham sejak sekarang tentang demokrasi yang sehat,” ujarnya usai membuka kegiatan.
Agus menilai, pendidikan politik tidak cukup hanya mengajarkan soal penggunaan hak pilih saat pemilu.
Lebih dari itu, generasi muda perlu memahami tanggung jawab dalam menjaga proses demokrasi, termasuk menentukan pilihan berdasarkan rekam jejak, visi, dan kapasitas calon pemimpin.
Menurut dia, tantangan saat ini semakin kompleks karena generasi muda hidup di tengah arus digital yang serba cepat.
Kemudahan mengakses informasi memberi peluang besar untuk belajar politik, namun juga bisa membuat anak muda justru bersikap apatis jika tidak diarahkan.
“Jangan sampai anak-anak yang punya potensi besar, apalagi didukung era digital, justru acuh terhadap demokrasi. Ini yang ingin kami dorong lewat pendidikan politik,” katanya.
Dia menambahkan, para peserta tidak hanya diharapkan memahami demokrasi secara teoritis, tetapi juga menjadi penggerak di lingkungan sebayanya.
Harapannya, kesadaran politik bisa tumbuh dari kalangan muda dan menular ke komunitas yang lebih luas.
Selain menyasar pelajar, program serupa juga akan diperluas ke kelompok masyarakat lain. Kesbangpol menyiapkan pendidikan politik untuk organisasi kemasyarakatan, kelompok perempuan, hingga komunitas sosial.
Sejumlah organisasi perempuan seperti Fatayat, Muslimat, Aisyiyah, serta Gabungan Organisasi Wanita (GOW) masuk dalam sasaran berikutnya.
Dalam pelaksanaannya, Kesbangpol menggandeng sejumlah pihak seperti Bawaslu, KPU, sekolah, hingga komunitas jurnalis.
Kolaborasi itu diharapkan membuat pendidikan politik berjalan berkelanjutan, tidak hanya menjelang pemilu.
Agus menegaskan, demokrasi bukan proses yang selesai setelah pemungutan suara. Menurut dia, pendidikan politik harus terus dilakukan agar kualitas partisipasi masyarakat meningkat dari waktu ke waktu.
“Tujuannya bukan hanya meningkatkan partisipasi pemilih, tapi juga membuat kualitas demokrasi di Wonosobo semakin baik pada setiap pemilu,” pungkasnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo