RADARMAGELANG.ID, Wonosobo—Sebanyak 16 kepala keluarga di Dusun Klowoh, Desa Kwadungan, Kecamatan Kalikajar, Wonosobo bertahan menggunakan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH).
Pembangkit tersebut warisan keluarga yang beroperasi sejak 1955.
Puluhan tahun, aliran mata air Bogowanto dimanfaatkan warga sebagai sumber energi mandiri.
Kincir air sederhana yang dibangun secara swadaya itu masih menjadi andalan penerangan rumah, terutama pada malam hari.
Pengelola PLTMH, Tri Adiyatomo, mengatakan inisiatif penggunaan kincir air sudah dimulai oleh generasi sebelumnya saat desa belum teraliri listrik.
“Dulu belum ada listrik, jadi Mbah saya memanfaatkan aliran air ini untuk membuat penerangan. Sampai sekarang masih dipakai,” katanya, Selasa (12/5/2026).
Sistem pembangkit bekerja dengan mengalirkan air ke kincir, lalu putarannya menggerakkan generator.
Meski teknologinya sederhana, PLTMH itu masih berfungsi dan dimanfaatkan oleh warga setempat.
Setiap keluarga hanya membayar iuran Rp 500 per watt untuk biaya perawatan. Namun, operasional pembangkit terbatas, hanya dinyalakan dari pukul 16.00 sampai 07.00.
Listrik yang dihasilkan juga belum cukup stabil untuk mengoperasikan perangkat elektronik berdaya besar. Warga sebatas menggunakannya untuk lampu rumah.
Keberadaan PLTMH itu ikut mendorong warga menjaga kelestarian hutan di sekitar mata air.
Mereka sadar, sumber energi tersebut bergantung pada terjaganya debit air dari kawasan hutan lindung.
Karena itu, masyarakat memiliki kesepakatan tidak menebang pohon di area sekitar sumber air.
Langkah itu dilakukan agar pembangkit yang sudah bertahan lebih dari 70 tahun tersebut tetap bisa dimanfaatkan generasi berikutnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo