RADARMAGELANG.ID, Wonosobo – Ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar minyak (BBM) mendorong Desa Talunombo, Kecamatan Sapuran, Wonosobo mencari jalan keluar.
Desa ini membangun kemandirian energi dengan mengolah sampah plastik menjadi solar setara dexlite.
Kepala Desa Talunombo, Badarudin mengatakan, gagasan tersebut lahir dari dua persoalan pada sampah plastik yang kian mengganggu dan tingginya ketergantungan terhadap BBM.
“Awal mulanya karena adanya permasalahan sampah plastik yang mengganggu, berserakan di jalan-jalan hingga ke lahan pertanian,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Dari situ, pemerintah desa mencoba menghadirkan solusi yang lebih strategis. “Kami inisiatif mengolah sampah menjadi BBM dan berkolaborasi dengan pemerintah provinsi melalui Brida Jateng,” imbuhnya.
Baca Juga: PO Handoyo Magelang Siapkan Langkah Efisiensi Jika Harga BBM Naik
Proses produksi diawali dengan pemilahan plastik tanpa kandungan aluminium foil. Sampah kemudian dimasukkan ke mesin pirolisis yang bekerja dengan metode pemanasan tanpa oksigen.
Dalam satu kali proses, mesin mampu mengolah 50 kilogram plastik dan menghasilkan 40–45 liter solar.
Proses ini memakan waktu sekitar sembilan jam dan saat ini baru dilakukan sekali dalam sehari.
Jika diakumulasi, sekitar 1,5 ton sampah plastik diolah setiap bulan menjadi BBM. Produk yang dihasilkan bahkan telah melalui uji kualitas di Lemigas.
BBM tersebut dimanfaatkan langsung oleh warga untuk kebutuhan mesin diesel, seperti traktor pertanian dan alat penggilingan padi.
Harganya pun relatif terjangkau, yakni Rp10.000 per liter. Tak hanya menghasilkan energi, pengolahan ini juga memaksimalkan limbah sisa.
Residu diolah menjadi briket sebagai bahan bakar alternatif, sementara sampah organik dijadikan pupuk.
“Ada briket untuk alternatif saat LPG langka, juga pupuk organik untuk pertanian,” jelasnya.
Menariknya, di tengah upaya membangun kemandirian energi, Talunombo justru menghadapi keterbatasan bahan baku.
Untuk menjaga produksi, pemerintah desa kini menjalin kerja sama dengan desa lain hingga tingkat kabupaten.
Sampah plastik dibeli seharga Rp1.000 per kilogram sebagai insentif bagi masyarakat.
“Kami ada inisiatif membeli dan bekerja sama antar desa maupun wilayah kabupaten,” ujarnya.
Program yang berjalan sejak 2022 ini dikelola empat pekerja dengan jam operasional pukul 08.00–16.00.
Meski masih terbatas dari sisi kapasitas dan teknologi, inovasi ini menjadi langkah awal desa dalam mengurangi ketergantungan BBM sekaligus membangun sistem energi mandiri berbasis potensi lokal.
“Harapannya, ini bisa jadi solusi jangka panjang bagi desa dalam menghadapi kebutuhan energi,” tandasnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo