Artikel Ilmiah Berita Entertainment Features Jateng Kecantikan Khazanah Lifestyle Magelang Makan Enak Mungkid Nasional Olahraga Otomotif Piknik Pojok Kampung Semarang Temanggung Travel Viral Wonosobo

Proyek Sekolah Rakyat di Wonosobo Baru 3 Persen, Terkendala Akses, Lahan, hingga Aspirasi Warga

Sigit Rahmanto • Selasa, 14 April 2026 | 18:02 WIB
Sekda Wonosobo One Andang Wardoyo saat meninjau lokasi sekolah rakyat di Desa Candiyasan, Kecamatan Kertek, Selasa (14/4/2026). (Humas Setda Kab Wonosobo for Jawa Pos Radar Magelang)
Sekda Wonosobo One Andang Wardoyo saat meninjau lokasi sekolah rakyat di Desa Candiyasan, Kecamatan Kertek, Selasa (14/4/2026). (Humas Setda Kab Wonosobo for Jawa Pos Radar Magelang)

 

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo – Ambisi mempercepat pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Wonosobo belum berjalan sesuai target. Hingga kini, progres fisik proyek baru menyentuh angka sekitar 3 persen dari target yang seharusnya mencapai 5 persen.

Di lapangan, aktivitas alat berat dan pekerja memang sudah mulai terlihat. Namun, laju pekerjaan tersendat oleh kombinasi persoalan teknis dan non-teknis yang belum tuntas.

Site Manager PT Wijaya Karya (WIKA), Fedik Yahezkiel Hutahaean, mengakui hambatan utama datang dari akses menuju lokasi proyek serta faktor cuaca. Kondisi tersebut sempat mengganggu mobilisasi material dan alat berat.

“Secara progres sebenarnya kita sudah a head dari rencana, tapi kemarin sempat terkendala akses. Mudah-mudahan setelah akses clear, percepatan bisa dilakukan,” ujarnya seusai ditemui di lapangan, Selasa (14/4/2026). 

Tak hanya soal teknis, proyek ini juga dihadapkan pada dinamika sosial di masyarakat. Sekretaris Daerah Wonosobo, One Andang Wardoyo, menegaskan komunikasi dengan warga terus dilakukan agar tidak menimbulkan konflik berkepanjangan.

Isu ini sempat ramai di publik, terutama di media sosial. Warga mempertanyakan penggunaan lapangan yang selama ini memiliki nilai historis dan sosial bagi masyarakat setempat.

Meski tidak menolak pembangunan, warga mengajukan syarat: lapangan pengganti harus disediakan.

“Warga mendukung, tetapi meminta lapangan diganti. Saat ini masih dalam proses pengadaan lahan dan penentuan lokasi pengganti,” kata Andang.

Ia menambahkan, pemerintah daerah tidak ingin pembangunan justru memicu resistensi sosial. Karena itu, pendekatan persuasif terus dilakukan sembari menyiapkan solusi konkret.

“Kami tidak ingin ada pihak yang merasa dirugikan. Prinsipnya, pembangunan tetap jalan, tetapi aspirasi warga juga harus diakomodasi. Ini yang sedang kami selesaikan,” tegasnya.

Masalahnya, proses tersebut belum menunjukkan titik terang. Pemerintah daerah baru mengalokasikan anggaran pengadaan lahan dalam perubahan APBD. Sementara itu, tahapan appraisal hingga kesepakatan harga dengan pemilik lahan masih berjalan.

 Baca Juga: Lapangan Hilang, Sekolah Rakyat Diprotes Warga Wilayah Kertek Wonosobo

Andang juga mengakui, keterlambatan penyelesaian aspek non-teknis berpotensi memengaruhi kecepatan proyek secara keseluruhan jika tidak segera dituntaskan.

“Memang ini menjadi tantangan. Tapi kami optimistis bisa diselesaikan, sehingga tidak menghambat progres pembangunan ke depan,” imbuhnya.

Di sisi lain, keterbatasan lahan menjadi persoalan mendasar yang ikut memengaruhi desain proyek.

Dari kebutuhan ideal 7 hingga 10 hektare, lahan yang tersedia saat ini hanya sekitar 5,29 hektare. Imbasnya, sejumlah fasilitas harus disesuaikan, termasuk penyusutan rencana lapangan olahraga.

Meski sejumlah pekerjaan fisik sudah berjalan, namun persoalan sosial dan administratif belum sepenuhnya rampung. Risiko tarik-ulur kepentingan masih terbuka jika penyelesaian tidak segera dipercepat.

Pemkab Wonosobo mengklaim akan terus melakukan pendekatan kepada warga sekaligus mempercepat proses pengadaan lahan.

Meski masih harus dibayangi masalah keterbatasan lahan dan belum tuntasnya aspirasi masyarakat. (git/lis)

 

Editor : Lis Retno Wibowo
#terkendala #desa candiyasan #terkendala cuaca #sekretaris daerah wonosobo one andang wardoyo #sekolah rakyat wonosobo