RADARMAGELANG.ID, Wonosobo — Pemerintah Kabupaten Wonosobo ingin memastikan perjalanan Ramadan 1447 Hijriah dilalui tanpa gangguan kemananan.
Aksi premanisme, pencurian, kebakaran rumah harus diantisipasi sejak dini.
Salah satu fokusnya adalah mencegah kebakaran dan tindak kriminalitas yang kerap terjadi saat rumah ditinggal salat tarawih.
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat, mengungkapkan, dalam beberapa tahun terakhir terdapat rumah terbakar akibat kelalaian pemilik yang lupa mematikan kompor atau lilin sebelum berangkat ke masjid.
“Kita pernah mengalami kejadian rumah ditinggal tarawih, ternyata kompornya belum dimatikan. Ada juga lilin yang lupa dipadamkan, lalu memicu kebakaran,” ujar Afif, Selasa (17/2/2026).
Menurut dia, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa persoalan keamanan sering kali bermula dari hal-hal kecil yang dianggap sepele.
Padahal, dampaknya bisa sangat merugikan bagi korban.
Selain potensi kebakaran, Pemkab Wonosobo juga mewaspadai aksi premanisme dan pencurian rumah kosong saat warga berbondong-bondong melaksanakan ibadah malam.
Momentum Ramadan, kata Afif, tidak jarang dimanfaatkan oleh oknum tertentu.
“Seharusnya bulan Ramadan dilakukan dengan penuh khidmat, ternyata ada oknum yang menggunakan itu untuk tujuan kejahatan.
Seperti perang sarung dan aksi bobol rumah. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya bisa kita hindari,” terangnya.
Untuk itu, pemerintah daerah akan menggelar tarawih keliling (tarling) di sejumlah titik yang tersebar di 15 kecamatan.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sarana komunikasi langsung antara pemerintah dan masyarakat.
“Tarawih keliling ini bagian dari upaya kami menyapa warga sekaligus menyampaikan pesan-pesan penting.
Kami ingatkan untuk memastikan rumah terkunci, kompor dimatikan, listrik aman sebelum berangkat ibadah,” katanya.
Afif menilai, pendekatan langsung di masjid-masjid lebih efektif karena pesan dapat disampaikan dalam suasana religius dan kebersamaan.
Ia berharap, melalui tarling, kesadaran kolektif masyarakat terhadap keamanan lingkungan semakin meningkat.
“Kita ingin Ramadan berjalan khusyuk tanpa dibayangi musibah yang sebenarnya bisa dicegah. Hal-hal kecil harus terus kita sosialisasikan,” ujarnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo