Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Laku Spiritual 2000 Warga Nahdliyin Ziarahi 36 Makam Ulama di Kepil Wonosobo

Sigit Rahmanto • Jumat, 30 Januari 2026 | 18:55 WIB
Ribuan warga Nahdliyin di Kepil Wonosobo ziarah bersama-sama di 36 makam ulama dan tokoh NU di 16 titik pemakaman, Sabtu (24/1/2026).
Ribuan warga Nahdliyin di Kepil Wonosobo ziarah bersama-sama di 36 makam ulama dan tokoh NU di 16 titik pemakaman, Sabtu (24/1/2026).

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Di banyak tempat di Wonosobo, ziarah makam masih jamak dilakukan warga. Namun di Kecamatan Kepil, tradisi itu melampaui kebiasaan individual.

Warga merangkainya menjadi ziarah massal, sebuah laku kolektif yang diikuti ribuan orang dengan menyusuri puluhan makam ulama dalam satu rangkaian perjalanan spiritual.

Sabtu (24/1/2026) , lebih dari 2.000 warga Nahdliyin mengikuti Ziarah Muqbarah Masyayikh dan tokoh NU Kecamatan Kepil yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) setempat.

Sejak pagi, iring-iringan kendaraan roda dua dan roda empat mengular rapi, bergerak dari desa ke desa. Ziarah dimulai dari makam KH Raden Abdul Fattah di Dusun Sigedong, Desa Tegalgot.

Dari titik ini, rombongan menelusuri 36 makam mubaraq para masyayikh dan tokoh NU yang tersebar di 16 titik pemakaman, sebelum berakhir di makam Jangkrikan, tempat disemayamkannya KH Syamzudin Zuhri.

Ia adalah salah satu tokoh yang menyebarkan thoriqoh di wilayah tersebut. 

Berbeda dengan ziarah personal yang lazim dilakukan, ziarah Kepil dirancang sebagai perjalanan bersama. Doa dipanjatkan serentak.

Nama-nama ulama disebut berulang. Sejarah lokal pun kembali hidup.

“Ini bukan sekadar ritual. Ini cara masyarakat Kepil menjaga hubungan dengan para pendahulunya,” ujar Camat Kepil, Eko Premono yang hadir dalam acara pembukaan tersebut. 

Bagi warga Nahdlatul Ulama, ziarah ke makam ulama bukan dimaknai sebagai pemujaan, melainkan tawasul.

Bentuk ikhtiar batin untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menyebut orang-orang saleh yang telah berjasa dalam dakwah dan pendidikan umat.

Ziarah juga menjadi ruang keteladanan moral. Ulama yang diziarahi bukan sekadar dikenang namanya, tetapi diingat laku hidupnya yang sederhana, berani dan selalu mengabdi kepada masyarakat.

Dengan berziarah, warga NU menempatkan sejarah sebagai guru, bukan sekadar cerita masa lalu.

Di Kepil, makna itu diperkuat dengan bentuk massal. Ziarah kolektif menegaskan bahwa tradisi NU hidup dalam kebersamaan. Doa dilakukan bersama, nilai diwariskan bersama, dan ingatan dijaga bersama.

Nama KH Raden Abdul Fattah menempati posisi penting dalam rangkaian ziarah. Ia dikenal sebagai tokoh senior penyebaran Islam di Wonosobo, sezaman dengan Mbah Dalhar Watucongol, Magelang sekaligus ulama pejuang kemerdekaan.

Pada masa perang, rumah dan pesantrennya menjadi pusat diskusi para ulama dan pejuang.

Selain itu, rombongan juga menyambangi maqbarah tokoh-tokoh lain. Seperti KH Ahmad Tohari, Kiai Abdullah Sajad, KH Muhammad Sabilan, Kiai Muhammad Badri, Kiai Sya’roni, Kiai Sobikhan. Kemudian, Kiai Hasyim Suyono, Kiai Khayadin, hingga Mbah Warjo dan Mas Nur Aziz Akbar.

Sembari melakoni perjalanan spiritual bersama itu, para peziarah tidak khawatir kelaparan.

Sebab, sepanjang rute ziarah, warga menyediakan makanan gratis. Sarapan hingga makan siang disiapkan di titik-titik tertentu. Semua berasal dari iuran sukarela warga sebagai wujud sedekah dan gotong royong.

Tradisi menjamu peziarah ini memperlihatkan bagaimana nilai NU tidak berhenti pada doa, tetapi hadir dalam tindakan sosial yang nyata.

Meski di tengah perubahan zaman, tradisi NU masih dirawat bukan sekadar dikenang, tetapi dijalani bersama dari tahun ke tahun, hingga saat ini. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#ziarah massal #camat kepil #tradisi #doa #Kecamatan Kepil #perjalanan spiritual #eko premono #tokoh nu