RADARMAGELANG.ID, Wonosobo – Rapuhnya ekosistem hulu Dieng akibat alih fungsi lahan yang berlangsung masif selama bertahun-tahun, kini memunculkan dampak buruk.
Hujan dengan intensitas tinggi selama dua hari berturut-turut memicu longsor di kawasan perbukitan sebelah utara Desa Tieng, Kejajar.
Longsor terjadi di Desa Patakbanteng, Kecamatan Kejajar yang berdampak langsung pada lahan pertanian warga di kawasan tersebut. Beruntung lokasi kejadian itu berada jauh dari pemukiman warga.
Material tanah dari perbukitan terbawa aliran air melalui sungai kecil yang bermuara ke Sungai Serayu.
Endapan longsor kemudian melebar dan menutup area pertanian sayuran milik warga, menyebabkan kerusakan cukup signifikan.
Camat Kejajar Khoirul Anam mengungkapkan, hujan ekstrem yang terjadi sejak Jumat hingga Sabtu menjadi pemicu utama pergerakan tanah di kawasan tersebut.
Arus air yang membawa material longsoran memperparah dampak di bagian bawah.
“Kejadiannya hari Jumat. Longsoran dari bukit utara Desa Tieng terbawa air lewat sungai kecil, lalu melebar dan masuk ke lahan sayuran sampai bawah,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (26/1/2026).
Akibat peristiwa tersebut, luas lahan pertanian yang terdampak diperkirakan mencapai 1,5 hektare. Seluruh area yang tertimbun merupakan lahan tanaman sayuran produktif milik warga setempat.
Khoirul menyebut, warga telah melakukan gotong royong untuk memperbaiki saluran air agar aliran tidak semakin meluas dan menambah kerusakan. Namun, upaya tersebut bersifat sementara sambil menunggu penanganan lanjutan.
“Kalau dihitung panjang dan lebarnya, estimasinya sekitar 1,5 hektare. Tadi masyarakat sudah gotong royong di lokasi untuk membetulkan saluran airnya,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kondisi tutupan lahan di kawasan perbukitan atas yang saat ini didominasi tanaman sayuran.
Minimnya tanaman keras dinilai meningkatkan kerentanan lereng terhadap longsor, terutama saat hujan ekstrem.
“Di atas sekarang mayoritas tanaman sayuran. Kalau hujan ekstrem seperti ini, potensi longsor memang besar karena tanaman kerasnya berkurang,” katanya.
Hingga kini, nilai kerugian akibat longsor tersebut masih dalam proses pendataan. Pemerintah kecamatan bersama pihak terkait terus memantau kondisi lapangan, mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo