Artikel Ilmiah Berita Entertainment Features Jateng Kecantikan Khazanah Lifestyle Magelang Makan Enak Mungkid Nasional Olahraga Otomotif Piknik Pojok Kampung Semarang Temanggung Travel Viral Wonosobo

Rawan Longsor, Jalan Lingkar Sumbing Ditutup Sementara, DPUPR Wonosobo Lakukan Pembenahan agar Aman untuk Pengguna Jalan

Sigit Rahmanto • Kamis, 22 Januari 2026 - 19:27 WIB
Jalur Lingkar Sumbing yang menawarkan keindahan alam kini ditutup sementara untuk ditata kembali agar aman bagi pengguna jalan.
Jalur Lingkar Sumbing yang menawarkan keindahan alam kini ditutup sementara untuk ditata kembali agar aman bagi pengguna jalan.

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo – Jalur Lingkar Sumbing (Jalisu) yang tengah viral karena keindahan alamnya, ditutup sementara.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU PR) Kabupaten Wonosobo menutup akses tersebut sejak 16 Januari hingga 17 Februari 2026 menyusul tingginya risiko longsor di sejumlah titik.

Penutupan dilakukan demi keselamatan pengguna jalan sekaligus penyempurnaan infrastruktur di kawasan pegunungan yang masih rawan longsor.

Kepala DPU PR Kabupaten Wonosobo, Nurudin Ardiyanto, menjelaskan proyek Jalisu saat ini masih dalam tahap penyesuaian teknis untuk memenuhi standar lebar jalan 5,5 meter.

Kondisi geografis pegunungan mengharuskan adanya pemotongan bukit (ngepras), yang berdampak pada stabilitas tanah, terlebih di tengah curah hujan yang masih tinggi.

“Dengan kondisi galian dan timbunan yang masih baru serta curah hujan saat ini, terdapat titik-titik rawan longsor. Secara alamiah, lereng juga belum diperkuat oleh vegetasi seperti rumput atau tanaman penguat tanah,” ujar Nurudin saat dikonfirmasi, Selasa (21/1).

Selain penanaman vegetasi pencegah erosi, DPUPR juga akan menambah infrastruktur pengaman berupa senderan di sejumlah titik kritis. Namun, ia mengakui bahwa pekerjaan tersebut belum sepenuhnya rampung.

“Kami justru khawatir animo masyarakat yang tinggi untuk melintas atau berkunjung ke kawasan ini tidak sebanding dengan tingkat keamanannya. Karena itu, penutupan sementara menjadi langkah paling rasional,” tegasnya.

Di sisi lain, Nurudin menyebut penutupan Jalisu bukan sekadar untuk kepentingan teknis, melainkan menjadi momentum penataan kawasan secara menyeluruh.

Pemerintah daerah, bersama kecamatan dan masyarakat setempat, tengah menyusun desain kawasan Jalisu sebagai destinasi wisata baru di lereng Gunung Sumbing yang tertata, bersih, dan berkelanjutan.

“Kami tidak ingin Jalisu hanya viral sesaat karena fomo. Target kami, kawasan ini menjadi destinasi wisata yang hidup terus, dengan UMKM tumbuh, agrowisata berkembang, dan ekonomi masyarakat meningkat,” katanya.

Beberapa potensi lokal mulai bermunculan, mulai dari olahan kopi di kawasan Bowongso hingga inisiatif UMKM warga.

Ke depan, konsep pengembangan juga mencakup homestay berbasis masyarakat, glamping dengan panorama alam, hingga wisata berbasis pertanian.

Menurut Nurudin, pembukaan Jalan Mekar Sumbing nantinya tidak boleh berhenti pada tersedianya infrastruktur semata, tetapi harus memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi warga sekitar.

Hal tersebut sejalan dengan visi Bupati Wonosobo dalam optimalisasi sektor pariwisata dan agrobisnis sebagaimana tertuang dalam RPJMD.

“Kami juga tetap menjaga agar tidak terjadi alih fungsi lahan secara masif. Tata ruang harus dikendalikan agar sumber daya alam tetap lestari dan bisa dikelola secara berkelanjutan,” imbuhnya.

Selama masa penutupan, DPUPR akan fokus pada perencanaan teknis lanjutan, penguatan infrastruktur, serta pemberdayaan masyarakat.

Dalam waktu dekat, pihaknya akan menggelar pertemuan lanjutan yang melibatkan lintas sektor, mulai dari dinas perdagangan dan koperasi, dinas pariwisata, hingga pelaku UMKM.

“Kami ingin membangun kolaborasi lintas stakeholder agar Jalan Lingkar Sumbing benar-benar menjadi pengungkit ekonomi kawasan, bukan sekadar jalan penghubung,” pungkasnya. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#Jalisu ditutup sementara #DPUPR #jalan lingkar sumbing #rawan longsor #jalisu #Nurudin Ardiyanto