RADARMAGELANG.ID, Wonosobo--Pembangunan infrastruktur bukan sekadar soal beton dan aspal.
Bagi Nurudin Ardiyanto, S.T., M.T., pembangunan adalah proses panjang yang harus ditopang perencanaan matang, keberlanjutan lingkungan, serta keberpihakan pada masa depan masyarakat.
Prinsip inilah yang mewarnai pengabdiannya sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Wonosobo.
Atas dedikasi tersebut, Nurudin dianugerahi penghargaan Abdi Nagari Award 2025 kategori Pelopor Tata Ruang Humanis dan Pembangunan Berkelanjutan dari Jawa Pos Radar Semarang.
Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kiprahnya sebagai aparatur sipil negara (ASN) yang konsisten dan progresif dalam merancang serta mengeksekusi pembangunan daerah berbasis tata ruang berkelanjutan.
Lahir di Wonosobo, 21 Oktober 1973, Nurudin merupakan figur teknokrat tulen. Kariernya ditempa sepenuhnya di lingkungan DPUPR.
Ia memulai dari posisi staf dan perlahan menapaki jenjang birokrasi hingga dipercaya memimpin dinas teknis tersebut.
Sepanjang kariernya, Nurudin tak pernah berpindah ke dinas lain. Konsistensi itu menjadikannya sosok yang khatam dalam urusan infrastruktur dan penataan ruang.
Dengan latar belakang pendidikan magister (S2) dan pangkat Pembina Tingkat I, Nurudin dikenal memiliki pandangan yang jauh ke depan.
Ia menegaskan bahwa pembangunan saat ini tak boleh mengorbankan generasi mendatang.
Konsep perencanaan wilayah dan kota yang berkelanjutan menjadi pijakan utama dalam menyeimbangkan kepentingan ekonomi, sosial, dan kelestarian lingkungan.
Di bawah kepemimpinannya, pembangunan tidak lagi dipandang sebagai proyek jangka pendek, melainkan investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat.
Tujuan utamanya jelas, yakni memenuhi kebutuhan hari ini tanpa merusak kemampuan alam dan ruang hidup untuk masa depan.
Salah satu capaian yang menonjol pada masa kepemimpinannya adalah tumbuhnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan infrastruktur.
Di sejumlah wilayah, model hibah tanah secara sukarela dari warga kepada pemerintah untuk pembangunan jalan dapat terwujud.
Tidak berhenti di situ, masyarakat bahkan ikut menjaga dan merawat jalan yang telah dibangun agar lebih awet dan berkelanjutan.
Praktik semacam ini tergolong langka di era modern, ketika tanah dan tenaga menjadi aset yang semakin mahal.
Namun pendekatan Nurudin yang komunikatif dan berbasis kepercayaan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa infrastruktur adalah kebutuhan bersama, bukan semata urusan pemerintah.
Penghargaan Abdi Nagari Award 2025 menegaskan posisi Nurudin Ardiyanto sebagai birokrat teknis yang bekerja dengan ketenangan, konsistensi, dan visi jangka panjang.
Dari ruang perencanaan hingga lapangan, ia membuktikan bahwa pembangunan yang baik adalah pembangunan yang berpikir jauh ke depan untuk hari ini dan generasi berikutnya. (git/aro)
Editor : H. Arif Riyanto