RADARMAGELANG.ID, Wonosobo– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo menyatakan peningkatan kewaspadaan menyusul peringatan cuaca ekstrem dari BMKG.
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat, mengaku prihatin atas tingginya kejadian bencana yang juga melanda daerah lain di Indonesia.
Menurutnya, Wonosobo sebagai kawasan pegunungan memiliki kerentanan yang harus terus diantisipasi dengan serius.
“Tentu kita sangat prihatin dengan kejadian bencana di luar sana, di Wonosobo juga,” ujarnya, Minggu (7/12/2025).
Afif menegaskan intensitas hujan berhari-hari selalu menjadi indikator awal potensi longsor.
“Kita sering diingatkan Kepala BPBD Wonosobo dari dulu-dulu, kalau ada hujan dua hari berturut-turut harus waspada karena berdasarkan pengalaman biasanya ada longsor dan sebagainya,” jelasnya.
Pemkab, kata dia, terus menggalakkan berbagai upaya penjagaan lingkungan sebagai bentuk mitigasi jangka panjang.
“Di kabupaten sering menggalakkan susur sungai, gerakan tanam pohon yang terus dan harus dilakukan. Itu bagian dari kita menjaga alam,” imbuhnya.
Afif juga menyebutkan peristiwa bencana dalam beberapa waktu terakhir, termasuk longsor yang menimpa permukiman warga.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Pucungkerep, Kecamatan Kaliwiro, yang hampir tiap tahun mengalami pergerakan tanah dan merusak rumah warga.
“Di situ retakannya sudah jalan dan potensi tanah bergerak. Untuk antisipasi kita, kalau alat bunyi EWS, masyarakat harus menghindari dari lokasi,” tegasnya.
Ia menyampaikan opsi relokasi bagi warga terdampak masih dikaji, mengingat proses tersebut membutuhkan kesiapan lingkungan maupun sosial yang tidak sederhana.
Afif memastikan penanganan bencana akan diprioritaskan dalam program pemerintah tahun 2026. Di sisi lain, BPBD Wonosobo memastikan seluruh personel dan peralatan sudah siaga penuh.
Koordinator TRC BPBD Wonosobo, Sabarno mengatakan berdasarkan laporan BMKG, Wonosobo masuk periode cuaca ekstrem sejak 4–10 Desember.
Menurut Sabarno, kesiapsiagaan menjadi kunci agar penanganan cepat dapat dilakukan di titik bencana.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di lereng rawan longsor, bantaran sungai, dan daerah dengan risiko angin kencang. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo