RADARMAGELANG.ID, Wonosobo– Tekanan ekologis di Dataran Tinggi Dieng terus meningkat. Para perempuan di Wonosobo tidak tinggal diam.
Di Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar, para perempuan memulai aksi pemulihan mata air dengan meditasi hening lalu menanam seribu bibit kopi di jalur menuju sendang.
Mereka terdiri dari PKK, Fatayat, Muslimat, Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah hingga kelompok permakultur dan restorasi hutan. Aksi mereka turun langsung memulai gerakan ekologis dengan pendekatan spiritual yakni meditasi hening sebelum menanam pohon.
Gerakan yang digelar Samitra Lingkungan bersama Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup Indonesia (BPDLH) itu mengajak perempuan merefleksikan kedekatan hidup mereka dengan air.
Sesi meditasi dilakukan di lapangan desa untuk membuka kepekaan terhadap hubungan manusia dengan alam.
Usai meditasi, peserta berjalan kaki menuju sendang yang menjadi salah satu mata air penting di Sigedang sambil membawa bibit kopi untuk ditanam di sepanjang jalur menuju sumber air tersebut.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Wonosobo, Endang Lisdyaningsih menegaskan pelibatan perempuan dalam konservasi air bukan sekadar simbolik.
“Data kami menunjukkan ada 1.670 mata air yang masih hidup pada musim kemarau 2025. Menanam pohon minimal 200 meter di atas titik mata air menjadi langkah yang terbukti efektif menjaga debitnya,” ujarnya.
Ketua PAC Fatayat NU Kejajar, Umi Amkhudloh menyampaikan perempuan sering menjadi pihak pertama yang merasakan dampak ketika mata air melemah.
“Perempuan sehari-hari berurusan dengan air. Karena itu kami bergerak. Penanaman pohon ini bukan hanya untuk mencegah longsor dan banjir, tetapi juga memberi manfaat ekonomi jangka panjang,” katanya.
Direktur Samitra Lingkungan, Rumiyati, menjelaskan aksi ini merupakan tindak lanjut rekomendasi Kongres Mata Air yang berlangsung di Desa Igirmranak pada Agustus 2025.
Salah satu rekomendasinya adalah pendataan dan pemulihan kawasan mata air melalui penanaman pohon.
Menurutnya, dengan melakukan meditasi air dan penanaman seribu kopi di Sigedang sebagai upaya penyelamatan mata air tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah.
Perempuan, yang paling dekat dengan kebutuhan air di rumah tangga, justru menjadi aktor paling nyata dalam memastikan air tetap mengalir bagi generasi mendatang. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo