RADARMAGELANG.ID, Wonosobo – Kekhawatiran terhadap peredaran narkotika yang menyasar kalangan pelajar membuat Polres Wonosobo menggencarkan langkah pencegahan.
Senin (17/11/2025) pagi, Satresnarkoba turun langsung ke SMPN 1 Mojotengah untuk menggelar sosialisasi pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba (P4GN).
Langkah ini diambil menyusul temuan kasus narkoba di wilayah Wonosobo yang belakangan mulai melibatkan pengguna usia remaja. Polres menilai sekolah menjadi salah satu titik rawan yang perlu mendapat perhatian serius.
Kegiatan berlangsung selama dua jam, menghadirkan pemateri Brigpol Tia Rahayu dan Nizar Hafidh Adwianto. Keduanya menyoroti pola peredaran yang kini menyasar siswa melalui modus pertemanan hingga penjualan berbasis media sosial.
“Remaja sering kali jadi target karena dianggap mudah dipengaruhi. Banyak kasus berawal dari coba-coba, lalu keterusan,” ujar Brigpol Tia dalam pemaparannya.
Para siswa terlihat antusias. Mereka bertanya mulai dari jenis narkoba yang paling banyak beredar, hingga cara membedakan pengaruh zat terlarang dengan masalah kesehatan biasa.
Guru juga dilibatkan untuk mengenali tanda-tanda awal penyalahgunaan di lingkungan sekolah.
Selain itu, sekolah juga diminta untuk ikut terlibat secara langsung memantau para siswanya untuk memperkuat pendidikan karakter serta pengawasan di lingkungan sekolah.
Apalagi seperti di SMPN 1 Mojotengah itu ada 850 siswa dari kelas VII hingga IX yang belajar.
Kasat Resnarkoba Polres Wonosobo, AKP Teguh Sukosso, mengatakan sekolah harus menjadi garda depan dalam pencegahan.
Menurutnya, upaya preventif perlu diperluas mengingat pola peredaran narkoba di Wonosobo semakin adaptif.
“Selain sosialisasi, kami terus menggencarkan edukasi di media sosial agar menjangkau lebih banyak remaja. Sementara itu, tindakan represif tetap berjalan. Bulan ini saja kami menangkap dua pengedar dan beberapa pengguna,” tegas Teguh.
Ia berharap kolaborasi sekolah, orang tua dan kepolisian dapat mempersempit ruang gerak jaringan narkoba, terutama yang mulai merambah siswa. “Kalau pelajar sudah ikut-ikut, ini bahaya besar. Harus diputus sejak dini,” tandasnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo