Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Naiknya Harga Rokok dan Bahan Pangan Sumbang Inflasi Terbesar di Wonosobo

Sigit Rahmanto • Rabu, 5 November 2025 | 18:12 WIB
Kepala BPS Kabupaten Wonosobo Mustaqim usai menggelar live data inflasi bulan Oktober 2025 di kantornya.
Kepala BPS Kabupaten Wonosobo Mustaqim usai menggelar live data inflasi bulan Oktober 2025 di kantornya.

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Kenaikan harga rokok dan sejumlah bahan pangan mendorong inflasi di Kabupaten Wonosobo naik pada Oktober 2025.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulan lalu mencapai 0,44 persen. Dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar, yakni 0,25 persen dari total inflasi.

Kepala BPS Wonosobo Mustaqim menjelaskan pergerakan harga di kelompok tersebut memiliki pengaruh paling besar terhadap perubahan harga di pasar lokal.

“Yang paling besar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Ini menunjukkan tekanan inflasi banyak bersumber dari kebutuhan sehari-hari masyarakat,” ujarnya saat rilis data inflasi untuk Kabupaten Wonosobo, Senin (3/11/2025).

Beberapa komoditas yang mendorong kenaikan harga di antaranya emas perhiasan (andil 0,17 persen), telur ayam ras (0,10 persen), cabai merah (0,06 persen), daging ayam ras (0,06 persen), serta sawi hijau (0,02 persen).

Namun di sisi lain, harga cabai rawit, bawang putih, kol putih, kopi bubuk, dan minyak goreng justru mengalami penurunan.

“Untuk komoditas pangan, kenaikan paling terasa di telur dan cabai merah. Sementara dari sisi tembakau, harga rokok beberapa merek naik mengikuti biaya distribusi dan bahan baku,” terang Mustaqim.

Secara tahunan, inflasi Wonosobo mencapai 2,76 persen dibandingkan Oktober tahun lalu. Lagi-lagi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama dengan inflasi 4,21 persen atau andil 1,48 persen terhadap total inflasi tahunan.

Kenaikan harga rokok, telur, serta bahan pangan lain dinilai cukup memengaruhi daya beli masyarakat kecil. “Bagi warga berpenghasilan tetap, kenaikan sekecil apapun di kebutuhan pokok dan rokok bisa langsung terasa di pengeluaran harian,” ujarnya.

Selain dari kelompok pangan dan tembakau, inflasi juga disumbang oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 10,45 persen dengan andil 0,64 persen. Serta kelompok transportasi dan kesehatan sebesar 0,17 persen.

Meski inflasi tahunan 2,76 persen masih tergolong terkendali, Mustaqim menilai perlu kewaspadaan karena tekanan terbesar justru datang dari barang-barang konsumsi masyarakat sehari-hari.

“Inflasi ini terlihat kecil di angka, tapi di lapangan dampaknya terasa di dapur dan di kantong masyarakat,” tutupnya. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#kenaikan harga rokok #inflasi #bahan pangan #BPS Kabupaten Wonosobo