RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Suasana halaman SDN 2 Wonosobo tampak berbeda dari biasanya, Senin (3/11/2025) pagi.
Ratusan siswa berdiri rapi mengikuti upacara bendera dengan antusias. Yang membuat istimewa, pembina upacara kali ini bukan guru maupun kepala sekolah, melainkan Wakapolres Wonosobo, Kompol Agustinus David Putraningtyas.
Di hadapan para siswa, Kompol David menyampaikan pesan penting tentang bahaya tiga dosa besar di lingkungan pendidikan, yaitu perundungan (bullying), kekerasan seksual, dan intoleransi.
Ia menegaskan ketiga hal tersebut tidak hanya merusak hubungan antarteman, tetapi juga bisa berdampak serius terhadap masa depan anak.
“Jangan pernah mengejek atau menyakiti teman. Semua anak berhak diperlakukan sama tanpa membeda-bedakan latar belakangnya. Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi siapa pun,” ujarnya di hadapan para siswa dan guru.
Selain mengingatkan soal perilaku negatif, wakapolres juga mengajak siswa berani bersuara jika melihat atau mengalami tindakan tidak menyenangkan.
Ia menegaskan keberanian untuk melapor kepada guru merupakan langkah penting untuk menghentikan kekerasan sejak dini.
“Kalau ada teman yang diperlakukan tidak baik, laporkan kepada bapak atau ibu guru. Jangan diam, karena diam justru membuat pelaku semakin berani,” tambahnya.
Pesan tersebut disampaikan dengan gaya santai dan bahasa yang mudah dipahami anak-anak.
Beberapa kali, Kompol David bahkan berinteraksi langsung dengan siswa, menanyakan apakah mereka pernah melihat teman yang dirundung atau diperlakukan tidak adil.
Guru kelas 2 SDN 2 Wonosobo, Alkomah mengapresiasi kehadiran kepolisian di tengah kegiatan sekolah. Menurutnya, kegiatan edukatif seperti ini penting untuk menanamkan nilai moral dan keberanian sejak usia dini.
“Anak-anak perlu diberi pemahaman bahwa kekerasan bukan cara menyelesaikan masalah. Kami berharap pesan dari Bapak Wakapolres bisa tertanam kuat di benak siswa,” ujarnya.
Kegiatan pembinaan karakter di sekolah itu menjadi bagian dari program Polres Wonosobo dalam mendukung terciptanya sekolah ramah anak. Sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperkuat sistem perlindungan anak di satuan pendidikan.
Menutup upacara, Kompol David mengajak seluruh peserta menyuarakan komitmen bersama dengan lantang, “Kami siap menciptakan sekolah ramah anak!” Seruan itu menggema di halaman sekolah, menandai semangat baru bagi para siswa untuk saling menjaga dan menghargai satu sama lain. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo