Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Jatabu Dorong Regulasi Baru lewat Gerakan Tanam Kopi di Lahan Perhutani Wonosobo

Sigit Rahmanto • Rabu, 15 Oktober 2025 | 00:54 WIB
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat bersama Komunitas Jatabu menanam kopi di lereng pegunungan.
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat bersama Komunitas Jatabu menanam kopi di lereng pegunungan.

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Komunitas Jagat Tunas Bumi (Jatabu) bersama Perhutani memulai gerakan tanam pohon kopi bersama di lereng pegunungan.

Gerakan ini muncul sebagai inisiatif warga akar rumput untuk mengembalikan fungsi hutan sekaligus mendorong kepastian regulasi pengelolaan lahan.

Penasihat Utama Jatabu, Taufik Arif mengatakan gerakan ini lahir dari kegelisahan atas perubahan wajah alam Wonosobo. Menurutnya, Wonosobo yang dulu dikenal dingin dan sejuk kini mulai kehilangan identitas ekologisnya.

“Ini bukan sekadar tanam bibit. Kami ingin mengembalikan suasana Wonosobo yang dulu. Alam harus dirawat, bukan ditinggalkan,” ujarnya.

Penanaman kopi dilakukan di beberapa titik. Seperti Igirmranak, Campursari Kejajar, Lamuk, dan Warangan.

Jumlah bibit di tiap lokasi berbeda, disesuaikan dengan kesiapan lahan dan arahan Asper maupun Administratur (ADM) Perhutani.

Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat mengapresiasi gerakan ini dan menyebut kopi sebagai pendekatan konservasi yang realistis.

“Ini gerakan bernilai. Merawat hutan sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. Jika kolaborasi seperti ini diperkuat regulasi, kelompok tani akan merasakan langsung hasilnya,” tegas Afif.

Menurutnya, sudah saatnya gerakan masyarakat sipil mendapatkan kepastian hukum agar upaya reboisasi tidak berhenti sebatas kegiatan simbolis.

Ketua Umum Jatabu Mantep Abdul Ghoney, mengakui masih ada persoalan mendasar di lapangan dengan ketidakjelasan pangkuan lahan antara Perhutani dan kehutanan sosial.

“Kami turun ke lapangan, tapi data luasan belum jelas. Ini bukan sekadar miss teknis, tapi soal kewenangan,” ujarnya.

Meski demikian, pihaknya menegaskan tidak membawa kepentingan komersial.

“Kami murni hibah. Tidak masuk ke skema investor. Perhutani memberi lahan, kami menyiapkan bibit, pemanfaatannya sepenuhnya untuk LMDH dan petani,” tegas Mantep.

Pihaknya memilih kopi sebagai tanaman transisi. Banyak lahan hutan terlanjur jadi ladang pertanian.

“Kopi jadi jembatan. Ada manfaat ekonomi, sambil perlahan kita arahkan kembali ke tegakan. Kalau langsung tegakan, siapa yang mau rawat?” jelasnya. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#Komunitas Jagat Tunas Bumi #tanam kopi #perhutani #BUpati Wonosobo afif Nurhidayat #Jatabu