RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Para siswa berkebutuhan khusus asal Wonosobo tampil memukau dalam penutupan Perkemahan Pramuka Berkebutuhan Khusus (PPBK) Nasional 2025 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta.
Mereka sukses menarikan tari Ginanjar Mulyo. Para penari yang merupakan siswa tuli dari SLB/B Dena Upakara dan SLB/B Karya Bakti itu tampil tanpa arahan langsung dari pelatih di depan panggung, pada Selasa (18/8) lalu.
Biasanya, penari tuli mendapat kode gerakan dari pelatih, namun kali ini mereka percaya diri menari sendiri berkat sebuah alat inovatif bernama pragati.
Alat bantu tersebut bekerja memberikan kode perpindahan gerak melalui getaran yang dikenakan di lengan penari.
Mulyani pelatih mengaku sangat bangga setelah melihat anak didiknya tampil tanpa bantuan kodenya.
“Rasanya bahagia sekali. Saya berharap ke depan alat ini bisa diproduksi lebih banyak dengan teknik lebih sederhana agar bisa digunakan penari tuli di seluruh Indonesia,” ujar penerima
Anugerah Kebudayaan Indonesia kategori Pelopor dan Pembaharu 2023, Jumat (22/8).
Pragati digagas oleh Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, berkolaborasi dengan Yulius Denny Prabowo (Universitas Bina Nusantara), Reza Pahlevi (Alpha Mechatronics).
Ketua Yayasan Dena Upakara, Suster Patricia PMY menilai pragati membuka ruang lebih luas bagi anak-anak tuli untuk terlibat dalam pelestarian budaya.
“Perhatian pemerintah ini luar biasa. Semoga semakin banyak anak berkebutuhan khusus bisa tampil percaya diri di panggung,” katanya.
Senada, Kepala SLB/B Karya Bakti, Agustinus Suka Basuki, menuturkan rasa syukurnya.
“Meski baru pertama belajar menari, anak-anak bisa cepat menyesuaikan diri dengan bantuan Pragati dan hasilnya benar-benar memukau hadirin,” tandasnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo