RADARMAGELANG.ID, Wonosobo– Peringatan Hari Lahir ke-27 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Kabupaten Wonosobo dimanfaatkan jajaran pengurus partai untuk meneguhkan sikap politiknya terhadap isu-isu kebijakan pendidikan di daerah.
Salah satunya adalah penolakan terhadap rencana penerapan sistem full day school atau sekolah sehari penuh. Sikap tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Ketua DPC PKB Wonosobo Hasan Asy’ari seusai menghadiri acara tasyakuran Harlah PKB ke 27 dan santunan yatim piatu di Ballroom Hotel Dafam Wonosobo, Selasa (22/7/2025) malam.
“Full day school sangat berpotensi mengganggu aktivitas belajar di madrasah-madrasah desa yang selama ini menjadi tempat anak-anak mengaji. Bahkan bisa menyebabkan madrasah itu tutup karena tak lagi ada waktu bagi anak-anak untuk mengaji,” tegas Hasan.
Menurutnya, pendidikan dasar seperti SD dan SMP berada dalam kewenangan pemerintah kabupaten. Oleh sebab itu, PKB Wonosobo akan mendorong penolakan ini di level lokal melalui komunikasi politik dan pendekatan persuasif kepada partai-partai koalisi dan pihak eksekutif.
“Kita sudah komunikasi. Bupatinya juga mitra politik kita. Insya Allah tidak akan buntu. Tapi kalau harus aksi, pasti akan kita gelar. Karena ini menyangkut roh masyarakat Wonosobo yang religius. Dari timur sampai barat, dari utara ke selatan, semua ada madrasah,” tegasnya.
Hasan menegaskan bahwa penolakan terhadap full day school bukan semata-mata sentimen ideologis, melainkan bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara pendidikan formal dan pendidikan agama nonformal yang telah terbukti berkontribusi pada pembentukan karakter generasi muda.
Selain menyuarakan penolakan terhadap full day school, Hasan juga memaparkan target politik PKB Wonosobo ke depan.
Dengan raihan 10 kursi dan posisi wakil bupati saat ini, PKB menargetkan menambah dua kursi lagi pada Pemilu mendatang, serta menyiapkan kader internal untuk maju sebagai calon bupati.
“Dengan 10 kursi dan posisi wakil bupati, kita harus naik jadi 12 kursi. Dan tentu, target kita selanjutnya adalah mengusung kader terbaik untuk jadi bupati,” ujarnya.
Baca Juga: Harlah ke-27, PKB Wonosobo Ziarahi 22 Makam Tokoh Ulama dan Pendiri Partai
Hasan juga menyebut momentum Harlah ke-27 ini digunakan PKB sebagai titik awal konsolidasi dan penguatan struktur partai hingga ke akar rumput.
Termasuk dengan peluncuran Lembaga Kaderisasi Kabupaten (LKK), sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas dan kapasitas kader.
“LKK ini baru saja kami luncurkan. Tugasnya membina kader-kader muda agar kuat secara ideologi dan juga unggul dalam kemampuan berpikir serta skill. Politik itu bukan hanya soal jabatan, tapi bagaimana memberi manfaat kepada masyarakat,” ujarnya.
Ketua Dewan Syuro PKB Wonosobo, KH Nur Hidayatullah, juga menegaskan penolakan terhadap full day school. Menurutnya, kebijakan itu akan menggerus waktu anak-anak untuk belajar agama di rumah atau madrasah.
“Sore hari itu waktu anak-anak mengaji dan berinteraksi di masyarakat. Kalau waktu itu tersita untuk sekolah formal sampai sore, anak-anak akan kelelahan dan pendidikan agama akan terpinggirkan,” ungkapnya.
Kiai Nur menyebut secara fikih, mudarat dari sistem full day school jauh lebih besar dibanding manfaatnya.
“Kalau anak-anak diporsir dari pagi sampai sore, malamnya mereka sudah capek. Mau ngaji pun tak sanggup. Di banyak tempat sudah terasa efeknya. Maka ini harus benar-benar kita perjuangkan agar tidak diterapkan di Wonosobo,” tandasnya.
Ia menilai sistem pendidikan yang berjalan saat ini sudah cukup baik dan tidak perlu diubah dengan skema full day school yang justru bisa mengganggu keseimbangan antara pendidikan umum dan pendidikan agama.
“Tanpa full day school pun target pendidikan nasional bisa tercapai. Kenapa harus mengubah yang sudah baik? Justru karakter anak akan lebih terbentuk lewat keseimbangan itu,” pungkasnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo