RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Pemerintah Kabupaten Wonosobo menginisiasi Gerakan Sekolah Online untuk penduduk dewasa.
Upaya ini untuk meningkatkan rata-rata lama sekolah dan menekan angka kemiskinan. Program tersebut menyasar warga usia 25 tahun ke atas yang belum memiliki ijazah setara SMA/SMK.
Sekretaris Daerah Wonosobo, One Andang Wardoyo, menjelaskan meski indeks pembangunan manusia (IPM) Wonosobo mencapai 70,6.
Angka tersebut termasuk tinggi namun jika dibandingkan dengan kabupaten kota lain di Jawa Tengah, masuk ranking bawah.
Salah satu penyebabnya, kata Andang, adalah rendahnya rata-rata lama sekolah warga dewasa, yakni hanya 6,9 tahun atau setara siswa kelas 1 SMP.
“Setelah dianalisis, ternyata pendidikan menjadi faktor kunci. Banyak warga dewasa belum lulus SMA. Bahkan tiap tahun masih ada yang putus sekolah,” jelas Andang saat dikonfirmasi, Kamis (26/6/2025).
Gerakan berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), PGRI, pemerintah kecamatan, dan desa.
Program pendidikan kesetaraan itu menggunakan sistem daring, namun pelaksanaannya akan difokuskan di masing-masing desa.
“Nanti peserta belajar dari desa masing-masing, dengan guru yang mengajar pamong belajar PKBM dan guru perbantuan. Fokus kami pada pendidikan kesetaraan Paket C setara SMA/SMK,” tambahnya.
Untuk tahap awal, Pemkab menargetkan 5.000 peserta setiap tahun. Warga yang belum memiliki ijazah SMA akan didata oleh pemerintah desa dan kecamatan.
Kemudian dikelompokkan berdasarkan pendidikan terakhir yang pernah ditempuh. Misalnya, jika pernah sekolah di kelas 2 SMA, maka akan langsung masuk kelas lanjutan.
“Proses belajar bisa berlangsung satu hingga tiga tahun, tergantung level terakhir peserta. Setelah itu mereka bisa mengikuti ujian penyetaraan,” katanya.
Program ini sepenuhnya gratis. Peserta tidak dipungut biaya, dan tenaga pengajar maupun pengelola tidak menerima honor.
Semua dilaksanakan dalam semangat gotong-royong untuk memajukan pendidikan warga.
“Ini gerakan. Tidak ada yang dibayar. Pemerintah hanya menginisiasi, sisanya gotong-royong,” tegas Andang.
Melalui program ini, Pemkab berharap angka partisipasi pendidikan menengah di Wonosobo dapat meningkat signifikan.
Selain berdampak pada kualitas hidup warga, peningkatan lama sekolah juga berpengaruh langsung terhadap indeks pembangunan manusia dan pengentasan kemiskinan.
“Kalau setiap tahun lulusan SMP melanjutkan ke SMA atau setara, baik lewat jalur formal atau sekolah online ini, maka kualitas SDM kita akan jauh lebih baik ke depan,” pungkasnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo