Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Setelah Ambles, Jembatan Sojokerto Wonosobo Akhirnya Bisa Dilintasi Kendaraan, Dibatasi Maksimal Berbobot 4 Ton

Sigit Rahmanto • Kamis, 26 Juni 2025 | 23:31 WIB
Peresmian Jembatan Sojokerto yang menghubungkan Desa Sojokerto Leksono dengan Desa Gunungtawang Selomerto yang selesai direhabilitasi, Kamis (26/6/2025).
Peresmian Jembatan Sojokerto yang menghubungkan Desa Sojokerto Leksono dengan Desa Gunungtawang Selomerto yang selesai direhabilitasi, Kamis (26/6/2025).

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Setelah tiga bulan ambles akibat tergerus aliran sungai, Jembatan Pusung yang menghubungkan Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono dengan Desa Gunungtawang, Kecamatan Selomerto akhirnya rampung direhabilitasi.

Pemerintah Kabupaten Wonosobo gunakan anggaran belanja tak terduga (BTT) tahun 2025 untuk melakukan rehabilitasi.

Jembatan ini menjadi salah satu urat nadi penting bagi masyarakat untuk menghubungkan kawasan pusat kota Wonosobo dengan sejumlah kecamatan, seperti Selomerto, Leksono, hingga Sukoharjo.

Volume kendaraan di jalur tersebut terbilang padat, mengingat fungsinya sebagai jalur utama masyarakat untuk sekolah, bekerja, hingga ke pasar atau rumah sakit.

Alhamdulillah, jembatan yang kemarin ambles, tahun ini kita tangani dengan anggaran BTT 2025. Meskipun kondisi fiskal kita sedang tidak cukup kuat, tapi karena urgensinya sangat tinggi, ini kita prioritaskan,” ujar Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat, Kamis (26/6/2025) dalam peresmian jembatan tersebut.

Ia menjelaskan, ke depan pemerintah akan mulai memetakan sejumlah jembatan lain yang perlu diperlebar untuk menyesuaikan dengan beban lalu lintas masa kini. Namun, pelebaran dilakukan bertahap menyesuaikan kekuatan anggaran daerah.

“Waktu perbaikan kemarin memang sempat kami pertimbangkan untuk sekalian dilebarkan. Tapi karena warga butuh akses cepat, kita fokuskan dulu pada rehabilitasi. Yang penting masyarakat bisa segera lewat lagi,” lanjutnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Wonosobo, Nuruddin Ardiyanto, menyebut amblesnya jembatan terjadi pada 24 Maret 2025 lalu.

Penyebabnya, tanah di bawah fondasi jembatan tergerus aliran sungai. Padahal jembatan tersebut sudah berdiri sejak 1955 dan terakhir disentuh perbaikan besar pada 1982.

“Perbaikan tahun ini difokuskan pada abutment jembatan, dari bagian fondasi bawah hingga atas. Rangkanya masih kita manfaatkan struktur lama karena masih cukup kokoh,” jelas Nuruddin.

Namun begitu, jembatan kini hanya boleh dilalui kendaraan dengan bobot maksimal 4 ton. Pembatasan ini, kata Nuruddin, sangat penting agar usia struktur bisa bertahan minimal 10 tahun ke depan.

DPUPR juga mulai menyusun rencana jangka panjang agar pembangunan lanjutan seperti pelebaran tidak perlu menutup total akses jalan.

Salah satu opsinya adalah membangun jalur baru di samping jembatan lama.

Dari sisi warga, apresiasi disampaikan langsung oleh Ketua Paguyuban Sopir Leksono (Persolek), Ahmad Makinun. Ia menyebut, rusaknya jembatan selama ini sangat memukul pendapatan, terutama bagi angkutan umum jalur Wonosobo–Leksono.

 “Pendapatan kami seperti ban mobil yang posisinya sudah di bawah tapi masih juga gembes. Berat sekali rasanya setelah setiap jadi harus berjalan memutar karena disini tidak bisa dilalui. Alhamdulillah sekarang bisa normal lagi,” ungkapnya. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#ambles #peresmian jembatan #DPUPR Wonosobo #Nurudin Ardiyanto #jembatan sojokerto #Kecamatan Leksono