Artikel Ilmiah Berita Entertainment Features Jateng Kecantikan Khazanah Lifestyle Magelang Makan Enak Mungkid Nasional Olahraga Otomotif Piknik Pojok Kampung Semarang Temanggung Travel Viral Wonosobo

Susun Program Pelestarian Lingkungan, DLH Wonosobo Petakan Sumber Air

Sigit Rahmanto • Kamis, 19 Juni 2025 | 00:31 WIB
Bupati Afif Nurhidayat bersama sejumlah stakeholder menebarkan benih ikan di aliran air di depan Kantor DLH Kabupaten Wonosobo, Rabu (18/6/2025).
Bupati Afif Nurhidayat bersama sejumlah stakeholder menebarkan benih ikan di aliran air di depan Kantor DLH Kabupaten Wonosobo, Rabu (18/6/2025).

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Sampai akhir 2024 berdasar data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wonosobo, ada 1.700 sumber mata air di seluruh Wonosobo.  Meskipun jumlah banyak, namun kondisi sebagian titik mulai menurun.

“Pendataan kita fokuskan saat musim kemarau, karena di musim hujan debitnya tidak mencerminkan kondisi riil. Ada sumber air berdebit kecil yang tetap bertahan, tapi banyak juga yang mulai menyusut,” kata Endang saat peringatan Hari Air Sedunia  2025 di Kantor DLH Wonosobo, Rabu (18/6/2025).

DLH tengah mendorong desa-desa untuk memetakan sumber mata air dan wilayah tangkapan air di masing-masing wilayah. Hasil pemetaan akan digunakan untuk menyusun program pelestarian dengan menanam pohon-pohon keras di sekitar lereng atau kawasan penyangga.

“Dengan pemetaan yang akurat, desa bisa langsung tahu daerah tangkapan air dan bisa merancang penanaman pohon yang sesuai. Kalau tangkapan airnya rusak, maka sumbernya bisa hilang,” tambahnya.

Wilayah yang memiliki topografi perbukitan seperti Kejajar, Garung, Kalikajar, Sapuran dan Kepil disebut menjadi lokasi utama munculnya mata air, yang sebagian besar berasal dari air tanah akibat tekanan hidrostatik pegunungan. Seperti Gunung Sindoro, Sumbing, Prau dan Bismo.

Sementara itu, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menegaskan pentingnya gerakan bersama dalam menjaga keberlangsungan air bersih. Menurutnya, Wonosobo yang saat ini masih relatif aman dari krisis air bersih, tetap perlu mewaspadai kerusakan lingkungan.

“Ini saatnya semua bergerak. Pemerintah bersama masyarakat akan mulai menanam pohon aren sebagai salah satu upaya menjaga keseimbangan air. Kita harus rawat mata air agar tetap mengalir untuk generasi ke depan,” kata Afif.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga sungai dari pencemaran dan praktik penangkapan ikan ilegal seperti menggunakan setrum.

“Kalau sungainya bersih, mancing di saluran irigasi pun masih bisa dapat ikan. Tapi kalau airnya kotor dan ekosistem rusak, ya semua habis. Jadi kita larang alat tangkap merusak, tapi pancing manual masih boleh,” tegasnya.

Selain pelestarian lingkungan, DLH juga mulai menyediakan layanan uji kualitas air yang dinilai Bupati sebagai langkah penting. “Ini terobosan bagus. Kualitas air harus terus dicek karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat,” pungkasnya. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#Hari Air Sedunia 2025 #Endang Lisdiyaningsih #menyusut #Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Wonosobo #mata air