RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Program makan bergizi gratis (MBG) di Kecamatan Wadaslintang telah berjalan untuk 15 sekolah di wilayah tersebut.
MBG di 15 sekolah itu dilayani oleh dapur di Sentra Pangan Program Gizi (SPPG) Unit Sidandang.
Unit ini sudah berjalan sejak 14 April lalu. Hingga kini, sudah sekitar satu setengah bulan kegiatan produksi dan distribusi berjalan lancar.
“Kita mulai sejak 14 April. Sampai sekarang sudah sekitar satu bulan setengah,” ujar Asisten Lapangan SPPG Sidandang, Krisna Ardisunu, saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Magelang di kompleks dapur SPPG Unit Sidandang, Kelurahan Wadaslintang.
Setiap hari, SPPG Sidandang menyuplai makanan ke 15 sekolah dari berbagai jenjang pendidikan. Mulai TK, SD, SMP, hingga SMA. Total porsi yang disiapkan saat ini mencapai 3.570 porsi per hari.
Tidak berhenti di situ, SPPG juga bersiap menambah sekitar 300 porsi untuk ibu hamil dan balita. Target ke depan, jumlah porsi akan ditingkatkan seiring masuknya tahun ajaran baru.
“Untuk tahun ajaran baru nanti, kita targetkan naik jadi sekitar 3.800 sampai 4.000 porsi, dengan tambahan beberapa sekolah lagi,” kata Krisna.
Distribusi dilakukan dalam tiga kloter. Kloter pertama berangkat pukul 07.00 untuk SD, mengingat waktu makan siswa sekitar pukul 08.30–09.00. Kloter kedua menyusul pukul 08.30, dan terakhir pukul 11.00 untuk jenjang SMP dan SMA.
Soal kualitas, SPPG menerapkan sistem pengawasan ketat. Setiap kloter pengiriman disisihkan satu sampel makanan untuk uji rasa dan kelayakan.
Selain itu, ahli gizi juga menyimpan satu porsi makanan di chiller khusus selama seminggu sebagai arsip uji laboratorium jika terjadi hal tak diinginkan.
“Sistem kontrol ini penting untuk memastikan keamanan pangan,” imbuh Krisna.
Saat ini, distribusi terjauh dari dapur SPPG Sidandang mencapai 3 kilometer, masih di bawah batas maksimal MBG yakni 5 kilometer atau 30 menit waktu tempuh.
“Jarak maksimal MBG itu 5 kilometer. Kita masih di bawahnya, dan rata-rata hanya 15 menit perjalanan,” jelasnya.
Ketua Komisi D DPRD Wonosobo, Suwondo Yudhistiro, mengapresiasi kinerja SPPG Sidandang. Menurutnya, keberadaan dapur umum seperti ini adalah fondasi awal yang bagus untuk menyukseskan program MBG.
Namun, untuk menjangkau seluruh siswa dan kelompok rentan lainnya di Wonosobo, jumlah dapur umum perlu ditambah.
“Kalau ingin mencakup seluruh siswa, ibu hamil, lansia, dan kelompok rentan lainnya, tentu harus ditambah lagi jumlah dapurnya,” tegasnya.
Suwondo menyebut, di wilayah Wadaslintang saja jumlah siswa diperkirakan mencapai 12 ribu orang.
Pendirian satu dapur dirasa belum cukup. Butuh paling tidak 3 sampai 4 dapur lagi untuk mencukupi kebutuhan di wilayah tersebut.
“Diperlukan skema kolaborasi. Bisa lewat kerja sama antarpihak, dengan sistem perjanjian yang jelas dari sisi modal maupun pengelolaan. Mendirikan lembaga bersama bisa menjadi solusi,” pungkasnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo