RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Langkah tak biasa dilakukan puluhan petani dan penyuluh dari berbagai kecamatan di Wonosobo. Mereka dilatih menghidupkan kembali tanah rusak tanpa harus bergantung pada pupuk kimia.
Pelatihan digelar di Kebun Belajar Tani Wonosobo, Rabu (11/6/2025), dengan menghadirkan praktisi pertanian Eko Mardiana. Peserta datang dari Kaliwiro, Wadaslintang, Mojotengah, Watumalang, dan Kertek, termasuk mahasiswa Polbangtan Yogyakarta.
Fokus pelatihan adalah pemulihan kesuburan tanah dengan pendekatan organik berbasis mikroba.
Materi ini menjadi krusial di tengah tingginya harga pupuk dan menurunnya produktivitas lahan akibat pemakaian pupuk kimia jangka panjang.
“Tanah yang subur bisa menyediakan sendiri unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Jadi bukan soal berapa banyak pupuk, tapi seberapa hidup tanahnya,” ujar Eko.
Peserta langsung praktik meracik bahan fermentasi dari campuran telur, ikan asin, kotoran ternak, fosfat, nitrogen, kalium, dan ragi tape.
Campuran ini difermentasi hingga 30 hari, lalu digunakan untuk menyiram lahan. Cairan ini disebut mampu menghidupkan kembali mikroorganisme penting seperti bakteri dan jamur tanah.
“Ini bukan pupuk cair. Ini starter untuk menghidupkan tanah. Kalau tanah sehat, tanaman pun tumbuh optimal tanpa biaya besar,” tegasnya.
Pendekatan ini dinilai lebih berkelanjutan karena mampu mengurangi ketergantungan pada pupuk pabrikan, yang selama ini menyedot banyak biaya petani.
Pelatihan pun dirancang untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Kepala Bidang Program dan Penyuluhan Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Wonosobo, Umar Soid, menyatakan pelatihan ini menjadi bagian dari program besar Kebun Belajar Tani yang digelar 20 kali sepanjang tahun.
“Targetnya bukan cuma petani, tapi juga pelajar TK, SD, hingga SMP. Kami ingin pertanian tidak hanya dikuasai, tapi juga dicintai sejak dini,” katanya.
Umar menambahkan, penguatan sektor pertanian harus dimulai dari pemahaman dasar soal tanah dan keberlanjutan lingkungan. Pendidikan sejak usia dini disebutnya sebagai kunci regenerasi petani.
“Lewat kegiatan ini, kami ingin tanamkan bahwa pertanian itu soal masa depan. Tak hanya tanam dan panen, tapi juga inovasi dan keberlanjutan,” tandasnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo