RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Siswa dan guru sejarah di Wonosobo mengadakan jelajah jejak sejarah leluhur. Mereka menyambangi makam Ki Ageng Wanusaba di Desa Plobangan, Kecamatan Selomerto, sebagai bagian pengenal sejarah lokal.
Kegiatan itu dikemas dalam Jelajah Situs Kabupaten Wonosobo yang digagas Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) pada Minggu (18/5/2025).
Acara dibuka dengan ziarah dan doa bersama, dilanjutkan diskusi sejarah yang dipandu Ketua AGSI Wonosobo, Yularti.
Ia menegaskan, kegiatan ini merupakan wujud nyata kontribusi para guru sejarah untuk mengenalkan kembali jejak kebesaran masa lalu kepada generasi muda.
“Melalui kunjungan ke situs-situs bersejarah, kami ingin membangkitkan kesadaran bahwa Wonosobo punya sejarah yang panjang dan membanggakan.
Ini penting untuk membentuk identitas dan karakter siswa,” ungkap Yularti, yang juga guru di SMA 2 Wonosobo sekaligus pelaku budaya aktif saat dikonfirmasi, Senin (19/5/2025).
Diskusi sejarah semakin hidup saat Bimo Sasongko dari Dinas Arpusda Wonosobo, menyampaikan materi bertajuk Ki Ageng Wanusaba, Plobangan, Selomerto, Wonosobo.
Ia menuturkan riset tentang tokoh ini sudah digeluti sejak 2005. Termasuk melakukan penelusuran ke Kotagede untuk memperkuat kaitan genealogis antara Ki Ageng Wanusaba dengan Mataram Islam.
“Ki Ageng Wanusaba adalah tokoh berpengaruh di Wonosobo, yang jejaknya terhubung erat dengan dinamika sejarah Mataram. Kita perlu merawat memori kolektif ini,” ujar Bimo.
Penasihat AGSI yang juga Ketua Komisi D DPRD Wonosobo, Suwondo Yudhistiro. menyoroti pentingnya menggali kekayaan sejarah Wonosobo sebagai daerah peradaban kuno.
“Dulu ada kepercayaan lokal yang disebut kapitayan. Banyak situs di Wonosobo bisa menjadi referensi sejarah, bahkan dikembangkan jadi wisata religi,” tegasnya.
Sekretaris AGSI, Sugiyono, menambahkan pelibatan siswa dalam kegiatan ini bukan sekadar simbolik.
Menurutnya, memahami sejarah lokal secara langsung di lapangan dapat membentuk rasa cinta tanah kelahiran dan meningkatkan penghargaan terhadap warisan leluhur.
“Dengan mengenal sejarahnya sendiri, siswa akan tumbuh menjadi generasi yang menghargai masa lalu dan siap menyongsong masa depan dengan lebih bijak,” katanya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo