Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Karang Taruna Selomerto Bantah Pembangunan Patung Biawak Dibiayai Dana Desa

Sigit Rahmanto • Selasa, 22 April 2025 | 03:47 WIB
Patung biawak yang dibangun di jalan utama Wonosobo-Banjarnegara Desa Krasak, Selomerto yang hampir selesai.
Patung biawak yang dibangun di jalan utama Wonosobo-Banjarnegara Desa Krasak, Selomerto yang hampir selesai.

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo  – Sebuah patung biawak raksasa yang  berada  di Desa Krasak,  Kecamatan Selomerto, Wonosobo, viral di media sosial.

Pasalnya, pembangunan patung yang berdiri mencolok di tepi jalan utama Wonosobo-Banjarnegara itu dianggap sangat mirip dengan aslinya. 

Namun di balik viralnya patung tersebut, tersimpan cerita panjang soal sejarah, budaya, hingga kecintaan warga pada satwa lokal.

Ketua Karang Taruna Kecamatan Selomerto, Ahmad Gunawan Wibisono, mengatakan ide pembangunan patung muncul dari warga sendiri.

Saat peringatan Hari Lingkungan Hidup di Desa Krasak, masyarakat mengusulkan dibuat ikon daerah berupa patung biawak atau menyawak — satwa endemik yang banyak ditemukan di wilayah tersebut.

“Biawak dan menyawak itu khas sini. Warga ingin ikon yang merepresentasikan lingkungan dan sejarah lokal. Bukan sekadar hiasan, tapi simbol,” jelas Ahmad Gunawan, saat dikonfirmasi Senin (21/4/2025). 

Desa Krasak  disebut pernah menjadi pusat pemerintahan era Hindia Belanda. Bahkan menjadi lokasi pertempuran besar pada agresi militer Belanda tahun 1949.

Kawasan Krasak juga dipercaya sebagai habitat hewan tersebut. 

Patung dengan tinggi 7 meter dan panjang 4 meter itu mulai dibangun 3 Februari 2025 lalu. Kini pengerjaan memasuki tahap akhir. Nantinya area sekitar patung akan dilengkapi taman dan ruang publik.

Seniman lokal Ari Anto dipercaya sebagai pembuat. Ia menegaskan proyek ini digarap dengan semangat pengabdian, bukan komersial.

“Saya diberi kepercayaan, bukan nilai. Kalau pun hanya dikasih lima juta, saya tetap buat. Ini soal rasa, bukan rupiah,” kata Ari.

Viralnya patung juga memunculkan spekulasi soal pendanaan. Salah satu isu menyebutkan pembangunan dibiayai dana desa Rp 50 juta. Hal ini langsung dibantah pihak Karang Taruna.

“Saya tidak bisa menyebutkan angkanya. Tapi tidak benar kalau dibilang pakai dana desa. Ini murni gotong-royong dan dukungan teman-teman BUMD. APBD pun tidak digunakan,” jelas Gunawan. 

Meski sempat menuai pro dan kontra, banyak warga justru menyambut positif keberadaan patung tersebut.

Mereka berharap ikon biawak bisa menjadi identitas baru Wonosobo sekaligus pengingat akan sejarah dan alam yang perlu dijaga. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#karang taruna #dana desa #Patung biawak #wonosobo #Selomerto