RADARMAGELANG.ID, Wonosobo – Suasana Alun-Alun Wonosobo mendadak berbeda, Kamis (17/4/2025). Puluhan mahasiswa dari Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) menggelar aksi diam bertajuk Kamisan.
Sebuah bentuk perlawanan simbolik terhadap impunitas pelanggaran HAM berat di Indonesia.
Mengenakan pakaian serba hitam, mereka berdiri membentang poster bergambar wajah-wajah yang selama ini menjadi simbol perjuangan HAM dan keadilan, Munir Said Thalib, Wiji Thukul, Marsinah, hingga para korban penghilangan paksa di masa Orde Baru.
Yang menarik, posisi mereka berdiri tepat di seberang Markas Kodim 0707/Wonosobo. Aksi itu berlangsung damai, tanpa orasi keras, tapi penuh makna.
“Aksi Kamisan ini jadi yang pertama di Wonosobo. Kami ingin membuka ruang diskusi publik soal ketidakadilan yang masih berlanjut sampai hari ini,” ujar Ketua Cabang PMII Ahmad Nursholih, yang memimpin aksi.
Aksi dimulai pukul 13.00 dan berlangsung hingga 17.00. Setelah aksi diam, mahasiswa menggelar diskusi terbuka di lokasi yang sama.
Isu yang dibahas mulai dari pembungkaman aktivis, kekerasan negara, hingga mandeknya penuntasan kasus HAM berat.
Menurut Memet -sapaan akrab Ahmad Nursholih, aksi ini bukan sekadar seremoni, tapi bentuk komitmen generasi muda untuk terus mengawal keadilan dan demokrasi.
“Kami ingin masyarakat Wonosobo tahu bahwa keadilan harus diperjuangkan. Kasus Munir, Wiji Thukul, adalah gambaran jelas tentang ketidakadilan yang terjadi. Kita hanya tidak ini masa-masa bungkamnya pendapat kembali lagi, ” tandasnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo