RADARMAGELANG.ID, Wonosobo — Pendakian ke Gunung Sumbing via basecamp Gajah Mungkur, Desa Lamuk, Kecamatan Kalikajar, Wonosobo, kembali disorot.
Dalam tiga hari terakhir, sedikitnya ada tujuh rombongan pendaki dilaporkan tersesat setelah mengikuti petunjuk aplikasi Google Maps.
Bukannya diarahkan ke jalur resmi, aplikasi justru membawa mereka melalui rute ekstrem di Desa Wonosari, Kalikajar.
Jalur tersebut dinilai berbahaya karena kondisinya rusak parah, curam, dan tidak layak untuk kendaraan roda empat.
Beberapa pendaki bahkan harus berbalik arah setelah terjebak di jalan berbatu dan sempit.
"Yang mau mendaki Gunung Sumbing tidak disarankan lewat Desa Wonosari. Jalannya curam, rusak, dan rawan kecelakaan," ujar Ami, warga Desa Lamuk, Selasa (28/1/2025).
Ami menyarankan para pendaki memilih jalur resmi yang lebih aman, yakni melalui Desa Kembaran.
"Kalau lewat Pasar Kembaran, jalurnya lebih bagus. Kalau lewat Wonosari, lebih cocok pakai motor saja. Mobil jelas tidak akan kuat," imbuhnya.
Banyak pendaki yang baru pertama kali ke Gunung Sumbing mengandalkan aplikasi peta digital tanpa memahami kondisi medan.
Hal ini sering berujung pada kesalahan arah. Seperti yang dialami sejumlah rombongan pendaki yang tersesat belakangan ini.
"Google Maps sering mengarahkan ke jalan pintas yang ternyata ekstrem. Jalannya kecil, rusak, dan berbatu. Banyak pendaki yang akhirnya kesulitan melanjutkan perjalanan," terang Ami.
Melihat banyaknya pendaki yang tersesat, warga Desa Lamuk berinisiatif memberikan informasi kepada calon pendaki.
Mereka aktif mengimbau pendaki untuk memilih jalur resmi dan menghindari rute Desa Wonosari.
"Pendaki sering tanya ke warga kalau sudah terlanjur tersesat. Kami selalu arahkan balik ke jalur Desa Kembaran. Jalur ini lebih aman, sering dilewati pendaki lain, dan kondisi jalannya juga lebih baik," jelasnya.
Selain arahan langsung dari warga, rambu-rambu yang jelas di setiap titik rawan dinilai sangat penting.
Warga berharap pihak pengelola basecamp dan pemerintah daerah dapat memasang papan informasi di jalur pendakian untuk meminimalkan risiko.
"Rambu-rambu arah itu penting. Apalagi buat pendaki yang baru pertama kali ke Gunung Sumbing. Kalau jalur resmi jelas, mereka tidak akan nyasar lagi," katanya.
Ami melanjutkan pendaki diimbau untuk tidak hanya mengandalkan aplikasi peta digital, tetapi juga mencari informasi dari warga setempat atau pengelola basecamp. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo