RADARMAGELANG.ID, Wonosobo- Tanah gerak yang terjadi di jalur utama penghubung Kaliwiro dan Wadaslintang via Desa Medono, Kaliwiro, Wonosobo, kian mengkhawatirkan.
Pasalnya, sejak ditemukan, retakan tanah di wilayah tersebut terus melebar dalam beberapa hari terakhir.
Hal tersebut disampaikan oleh Koordinator Relawan Penanggulangan Bencana (RPB) SAR Kecamatan Kaliwiro, Habib saat dikonfirmasi, Senin (16/12/2024).
Habib mengaku adanya tanah bergerak pada Sabtu (14/12/2024) lalu, hingga saat ini pihaknya masih terus melakukan pemantauan situasi pada jalur utama di Desa Medono.
"Masih kita pantau melalui tim dan laporan dari masyarakat secara intens barangkali terjadi tanah bergerak susulan kita sudah lebih siap," terangnya kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Tanah bergerak di wilayah tersebut cukup mengkhawatirkan menyebabkan beberapa bangunan rusak, hingga jalan utama amblas.
"Pada peristiwa terkahir itu ditandai dengan munculnya retakan sepanjang 60 meter dengan kedalaman mencapai 1 meter," katanya.
Retakan ini bervariasi lebar, antara 5 hingga 20 cm. Kabel jaringan PLN terputus, pohon tumbang, serta beberapa ruko dan bangunan mengalami retak dan amblas.
Dampak tersebut terus dipantau oleh RPB SAR Kaliwiro bersama masyarakat setempat.
Koordinasi dengan Forkompincam Kaliwiro dilakukan secara berkala untuk memastikan tanggapan yang cepat dan tepat terhadap perkembangan situasi.
"Hasil pemantauan hari ini (kemarin, Red) menunjukkan bahwa pergerakan tanah masih berlangsung, dengan retakan yang melebar dan jalan yang semakin parah amblas," ujarnya.
Untuk mengatasinya, RPB SAR Kaliwiro bekerja sama dengan masyarakat menimbun jalan yang amblas menggunakan pasir dan batu.
Upaya ini untuk meminimalisasi aliran air masuk ke dalam retakan dan menjaga agar lalu lintas tetap berjalan di jalur utama, yang merupakan akses utama bagi masyarakat sekitar.
Namun, kendaraan roda empat dengan muatan berat atau besar tidak dapat melintas.
Diketahui, jalur tersebut merupakan zona merah karena sering terjadi tanah bergerak. Dalam waktu empat tahun terakhir, terjadi lima kali pergerakan tanah di wilayah ini.
"Padahal di tahun 2023 lalu, jalur ini sudah coba diperbaiki oleh pemerintah daerah.
Dengan melakukan pengaspalan di sepanjang jalan tersebut. Tapi karena lokasinya rawan, sekarang kembali rusak," tandasnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo