RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Kabupaten Wonosobo mempertegas komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan dengan mengutamakan konsep konservasi lingkungan dalam setiap kebijakan pengembangannya.
Melalui rencana pembangunan jangka panjang daerah (RPJPD) 2025-2045, kawasan strategis seperti Dataran Tinggi Dieng dan Sindoro-Sumbing ditetapkan sebagai prioritas pengembangan.
Kedua kawasan ini akan diarahkan menjadi pusat pariwisata berbasis konservasi, sekaligus mendukung kemandirian pangan melalui pengelolaan agrobisnis yang ramah lingkungan.
Dieng, sebagai salah satu ikon pariwisata nasional, akan dikelola sebagai geopark yang mengintegrasikan pariwisata alam dengan edukasi budaya dan geologi.
Pemerintah daerah juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
"Pengelolaan kawasan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan wisata, tetapi juga memperhatikan kelestarian lingkungan.
Kami ingin memastikan Dieng tetap menjadi warisan alam yang terjaga hingga generasi mendatang," ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Wonosobo, Supriyadi.
Selain itu, wilayah hulu DAS Serayu, yang menjadi sumber air penting bagi daerah sekitarnya, difokuskan pada pengembangan pertanian hortikultura berbasis konservasi.
Konsep ini dirancang untuk mengurangi erosi, menjaga kesuburan tanah, dan memastikan keberlanjutan ekosistem.
"Petani di wilayah hulu akan didorong untuk menerapkan praktik pertanian ramah lingkungan, yang tidak hanya menguntungkan mereka secara ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya alam," tambahnya.
Pemerintah juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk akademisi dan praktisi lingkungan, untuk memastikan setiap program berjalan efektif.
Melalui pendekatan terpadu ini, Wonosobo berharap dapat menjadi model pembangunan berbasis konservasi yang seimbang antara kebutuhan ekonomi dan lingkungan.
Kabupaten Wonosobo dibagi menjadi lima wilayah pengembangan (WP) yang disesuaikan dengan karakteristik dan potensi masing-masing.
Wilayah-wilayah ini diharapkan menjadi pilar utama dalam pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Wilayah Jagatengah (Kejajar, Garung, Mojotengah) menjadi fokus pengembangan pertanian hortikultura berbasis konservasi, pariwisata geopark, dan pendidikan vokasi.
Sedangkan Tujoseno (Watumalang, Sukoharjo, Selomerto, Leksono) diarahkan pada pengembangan agroindustri, perdagangan, dan jasa.
Wilayah Kerso (Kertek, Wonosobo) mengintegrasikan konsep urban farming, perdagangan, jasa, serta ekowisata berbasis religi.
Kemudian wilayah Bakalintang (Kaliwiro, Kalibawang, Wadaslintang) pengembanan subsektor pertanian, budidaya perkebunan.
Selanjutnya wilayah Jarankepil (Kalikajar, Sapuran, Kepil) pengembangan pertanian terintegrasi, menggabungkan sektor pertanian, perikanan dan peternakan.
Pembagian wilayah ini untuk menciptakan keseimbangan pembangunan dan memaksimalkan potensi lokal.
Dengan strategi ini, setiap wilayah dapat saling menopang dan berkontribusi dalam meningkatkan daya saing Wonosobo secara keseluruhan.
Pemerintah juga memastikan setiap program di wilayah pengembangan didukung infrastruktur memadai, termasuk akses jalan, irigasi, dan fasilitas umum lainnya.
Upaya ini untuk memastikan setiap wilayah mampu mencapai target pembangunan yang telah ditetapkan. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo