RADARMAGELANG.ID, Wonosobo—Petani di Desa Tieng, Kecamatan Kejajar kini memiliki Unit Pengolahan Hasil (UPH) dan korporasi tembakau pertama di Kabupaten Wonosobo.
UPH tersebut akan dijadikan sebagai rumah produksi tembakau unggulan di kota dingin ini.
Peresmian rumah produksi itu dilakukan Rabu (3/12/2024) dihadiri Kepala Distanbun Provinsi Jawa Tengah Supriyanto, Wakil Bupati Wonosobo Muhammad Albar dan jajaran OPD di Dispaperkan.
UPH tersebut akan digunakan sebagai rumah produksi tembakau swating sebagai upaya menghidupkan kembali tembakau legendaris di Wonosobo.
"Alhamdulillah, gedung ini sudah diresmikan dari hasil DBHCHT. Kami berterima kasih kepada Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jawa Tengah yang mendukung usulan dari kelompok tani swating untuk mengembangkan kembali potensi tembakau yang sudah melegenda sejak zaman Belanda," kata Wabup Albar usai peresmian.
Menurutnya, tembakau dari Desa Tieng pernah berjaya pada masa kolonial, menjadi salah satu komoditas andalan petani setempat. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, mulai ditinggalkan.
"Produksi tembakau menurun karena proses pengolahannya panjang. Banyak petani yang pada saat itu beralih ke kentang karena dianggap lebih menguntungkan," ungkap Albar.
Saat ini, hanya 20–30 persen petani yang masih menanam tembakau, sementara sisanya memilih kentang.
Namun, tren menurunnya harga kentang dan meningkatnya biaya produksi membuka peluang baru untuk mengembangkan kembali tembakau di wilayah tersebut.
"Potensi tembakau ini masih sangat besar. Apalagi jika itu dikelola dengan baik dan benar. Karena sebenarnya secara kualitas, tembakau kita itu jauh lebih baik dibanding daerah lain," ujarnya.
Untuk itu, kehadiran Rumah Produksi Tembakau diharapkan membawa angin segar bagi petani.
Sistem korporasi petani diterapkan untuk mendukung kelompok tani dan petani individu secara timbal balik.
"Kelompok tani akan membeli hasil panen petani. Ini mencegah ketergantungan petani pada tengkulak. Kami ingin petani lebih mandiri, menguasai proses produksinya sendiri," kata Albar.
Untuk meningkatkan daya saing, kelompok tani telah berinovasi dengan memproduksi cerutu dan tembakau linting siap pakai.
Produk ini lebih praktis karena bisa langsung dinikmati tanpa proses tambahan.
Pasar rokok yang terus berkembang menjadi peluang besar bagi tembakau. Namun, Albar mengingatkan legalitas produk harus diperhatikan. "Semua produk harus bercukai agar legal dan aman dipasarkan," tegasnya.
Dengan diresmikannya rumah produksi ini, Albar optimistis tembakau dapat kembali bersinar. Tidak hanya untuk memenuhi pasar lokal, tetapi juga untuk menembus pasar nasional.
“Kami berharap rumah produksi ini membuka peluang pasar yang lebih luas dan mendukung daya saing tembakau di Wonosobo.
Sehingga manfaatnya akan terasa langsung bagi petani di Desa Tieng dan sekitarnya,” tutupnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo