RADARMAGELANG.ID, Wonosobo– Jembatan gantung Stanmelo yang menghubungkan Desa Kaliguwo, Kecamatan Kaliwiro, dan Desa Kalidadap, Kecamatan Wadaslintang, rusak parah akibat diterjang banjir.
Hujan deras yang melanda kawasan Wonosobo sejak Sabtu (23/11/2024) membuat Sungai Luk Ulo meluap dan menghantam struktur jembatan, sehingga tak bisa lagi digunakan.
Dampaknya, akses warga antara dua desa tersebut lumpuh total.
Kepala Desa Kalidadap Kecamatan Wadaslintang, Wahono menjelaskan kronologis jembatan sepanjang 12 meter putus setelah diterjang banjir yang ke tiga kalinya pada Minggu (24/11/2024). Kala itu hujan terus-menerus turun selama 3 hari.
Akibatnya, akses menuju kedua desa putus total. Warga yang mengandalkan satu-satunya jembatan antarkecamatan di wilayah tersebut untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial itu, kini hanya bisa pasrah dengan keadaan.
"Jembatan ini sangat berarti bagi kehidupan warga dua kecamatan.
Karena selain untuk jalur ekonomi seperti ke pasar dan distribusi hasil pertanian, jembatan ini juga menjadi akses utama siswa-guru menuju SMP Negeri 3 Wadaslintang," terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU PR) Kabupaten Wonosobo, Nurudin Ardiyanto, menjelaskan kerusakan terjadi karena pergeseran arus Sungai Luk Ulo.
“Morfologi sungai yang sering berubah menyebabkan bagian sisi operasi jembatan sepanjang 60 meter terhantam hingga roboh,” katanya saat meninjau lokasi.
Menurutnya jembatan Stanmelo dibangun pada 2017 dengan bentang total 60 meter, menghubungkan Desa Kaliguwo dan Kalidadap.
Dengan biaya pembangunan Rp 1,9 miliar, jembatan ini menjadi satu-satunya akses yang menghubungkan antara desa di Kecamatan Kaliwiro-Wadaslintang.
"Karena ini menjadi akses utama bagi berbagai aktivitas, terutama dalam pendidikan, makanya kita turun langsung untuk memastikan langkah tepat yang dilakukan dalam waktu dekat ini," terangnya.
Upaya awal yang dilakukan adalah menutup akses jembatan untuk mencegah kecelakaan dan menyelamatkan aset.
"Kami akan membongkar bagian yang rusak agar materialnya bisa dimanfaatkan untuk perbaikan ke depan. Karena dulu pernah ada jembatan gantung seperti ini terbawa banjir. Sayang kalau akhirnya tidak bisa digunakan," ujarnya.
Dalam waktu dekat menurutnya masih sulit melakukan perbaikan.
Mengingat curah hujan tinggi diprediksi hingga awal 2025.
Terpisah, Kepala Desa Kaliguwo, Kaliwiro, Paijo berharap agar jembatan bisa segera dibangun kembali.
Masyarakat sudah lama menginginkan jembatan permanen yang lebih kokoh.
"Kalau hanya jembatan gantung, usianya tidak tahan lama. Kami berharap jembatan baru nanti bisa dilalui kendaraan roda empat.
Sehingga distribusi hasil pertanian dan akses ekonomi semakin lancar," harapnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo