Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Debit Sumber Air Perumda Air Minum Tirta Aji Belum Normal, Pelayanan Wilayah Tertentu Terdampak

Sigit Rahmanto • Kamis, 21 November 2024 | 23:53 WIB
Forum konsultasi publik yang diadakan Perumda Air Minum Tirta Aji Wonosobo, Rabu (20/11/2024).
Forum konsultasi publik yang diadakan Perumda Air Minum Tirta Aji Wonosobo, Rabu (20/11/2024).

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo– Penurunan debit air di sumber mata air Sigajah, Desa Tlogojati diklaim akibat dari musim kemarau.

Meski telah memasuki musim penghujan saat ini, debit air di wilayah tersebut masih belum kembali normal.

Direktur Administrasi dan Keuangan Perumda Air Minum Tirta Aji, Nur Azis, mengakui debit beberapa sumber air mengalami penurunan drastis akibat musim kemarau.

Turunnya debit mata air di sumber utama itu membuat beberapa wilayah yang masuk cabang Pahlawan merasakan dampaknya.

"Meski kemarau tahun ini tidak separah tahun lalu, dampaknya terasa lebih berat. Mata air utama seperti Sigajah yang mendistribusikan ke Cabang Pahlawan dan sekitarnya langsung turun debitnya setelah kemarau berjalan satu hingga dua bulan terakhir," ujar Nur Azis, Rabu (20/11/2024).

Beberapa wilayah seperti di Jogoyitnan, Sidorejo, yang masuk dalam pelayanan Cabang Pahlawan, menjadi area yang paling terdampak.

Mata air Sigajah yang berada di Desa Tlogojati, Wonosobo diketahui sangat sensitif terhadap perubahan cuaca. 

"Ini tantangan besar bagi kami. Debit air di sana turun cepat, bahkan sekarang kondisi debit yang keluar itu tinggal 1/3 dari biasanya, sehingga pengaliran ke pelanggan terhambat," imbuhnya.

Untuk mengatasi hal itu, Perumda Tirta Aji sudah mencoba mengoperasikan mata air baru di Bomerto.

Namun, debit yang dihasilkan hanya sekitar 11–12 liter per detik. "Debit ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pelanggan," jelasnya.

Tidak berhenti di situ, Tirta Aji juga memanfaatkan mata air lain, seperti Silegok dan Muncar, yang berada di wilayah Candimulyo, Kertek.

Namun, jarak yang jauh—sekitar 3 kilometer dari jaringan distribusi utama—serta kapasitas pipa yang terbatas menjadi kendala tersendiri. "Upaya ini tetap belum bisa memberikan hasil maksimal," ujar Nur Azis.

Demi menjaga distribusi air, sistem pengaliran bergilir diterapkan di kawasan Pahlawan.

Dalam sehari, air dialirkan dengan durasi tertentu ke pelanggan di area terdampak. "Kami pastikan setiap pelanggan tetap mendapatkan suplai, meskipun belum bisa normal seperti biasanya," katanya.

Ia menekankan pihaknya tidak membedakan pelayanan kepada pelanggan di kawasan tersebut.

“Tidak ada diskriminasi. Baik rumah pejabat maupun pelanggan biasa, semuanya mendapatkan perhatian yang sama,” tegasnya.

Krisis air tahun ini menjadi catatan penting bagi Perumda Tirta Aji. Nur Azis memastikan pihaknya akan mengevaluasi kinerja agar kejadian serupa tidak terulang.

"Tahun 2023 menjadi pelajaran berharga bagi kami. Ini akan menjadi fokus utama untuk meningkatkan pelayanan di tahun-tahun mendatang," pungkasnya.

Perumda Tirta Aji juga meminta masyarakat untuk bersabar dan mendukung berbagai upaya yang sedang dilakukan. “Kami terus berupaya maksimal agar kebutuhan air bersih tetap terpenuhi,” tambahnya. (git/lis)

 

Editor : Lis Retno Wibowo
#Penurunan Debit Air #wonosobo #Perumda Air Minum Tirta Aji Wonosobo #kemarau #mata air #Nur Azis