WONOSOBO, Radar Magelang – Peringati sejarah leluhur, warga Desa Warangan, Kecamatan Kepil, Wonosobo, merayakan tradisi "Momongi Tampah, Senin (28/11/2024).
Kegiatan ini menjadi simbol penghormatan masyarakat terhadap sejarah berdirinya desa dan dedikasi para leluhur yang dikenal sebagai tokoh sakti dari Kerajaan Mataram dalam melawan penjajah Belanda.
Kepala Desa Warangan, Mustofa mengungkapkan Momongi Tampah diadakan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat yang sebagian besar merupakan perajin bambu.
"Bambu adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga Warangan," ujarnya.
Tradisi ini, lanjut Mustofa, akan terus dijalankan setiap tahun sebagai ungkapan syukur sekaligus pelestarian nilai-nilai budaya.
Sebagian besar warga di desanya menjadi pengrajin bambu tidak lepas dari sejarah awal desa tersebut.
Desa Warangan memiliki sejarah panjang yang diwarisi dari tokoh-tokoh berpengaruh. Seperti Ki Ageng Warangan atau Pangeran Gelap Ngampar, yang menamai desa ini dengan Warangan.
Ada pula Raden Mas Jolang (Amangkurat II) atau Mbah Kiai Satrio, yang memberi nama Dusun Satriyan; Pangeran Ontowiryo atau Mbah Kiai Klesman, yang mendirikan Dusun Klesman; dan Ki Ageng Garungan, pencetus nama Dusun Garung.
"Tokoh-tokoh utu dikenal sebagai orang yang berjuang memimpin perlawanan pada penjajahan di masa Belanda.
Tidak hanya itu, mereka juga mengajarkan warga beragam keterampilan ekonomi, mulai dari bertani hingga membuat kerajinan bambu, keterampilan yang masih diwariskan hingga kini," ujarnya.
Untuk mengenang jasa mereka, beberapa tokoh di desa tersebut sepakat untuk menggelar tradisi Momongi Tampah.
"Tradisi itu dimulai dengan prosesi pengambilan air dari sumber mata air, ziarah ke makam leluhur, tapa bisu, dan pawai obor yang membakar semangat warga. Khusus tahun ini kita adakan dengan cukup meriah," terangnya.
Camat Kepil, Eko Premono mengapresiasi Momongi Tampah sebagai bagian dari kekayaan budaya yang harus terus dilestarikan dan dijaga oleh masyarakat Kabupaten Wonosobo.
"Tradisi semacam ini memang perlu untuk diteruskan agar anak cucu kita bisa mengerti dan paham dengan desa kita," terangnya saat mengikuti proses kirab pada akhir Oktober lalu.
Tak hanya kirab, acara juga diisi dengan pembacaan sejarah desa dan filosofi tampah. Sebagai bentuk refleksi bagi generasi muda tentang akar budaya desa mereka.
Dilanjutkan dengan penyiraman bibit bambu menggunakan air yang diambil dari berbagai sumber mata air di desa, simbol kehidupan dan ketahanan yang terus diwariskan. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo