RADARMAGELANG.ID, Wonosobo--Warga Dusun Pagerotan, Desa Pagerejo, Kecamatan Kertek, kembali menggelar tradisi selamatan tenongan atau nyadran setiap 70 hari sekali, Jumat (25/10/2024) Kliwon lalu.
Tradisi ini tak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga bentuk rasa syukur kepada Tuhan dan penghormatan bagi leluhur.
Pelaksanaan nyadran kali ini terasa lebih istimewa, karena bertepatan dengan hajatan desa atau merdi desa, yang hanya diadakan setahun sekali.
Rangkaian acaranya dimulai dengan pengajian, disusul dengan pergelaran tari Tayuk Teledek.
Dua hari setelahnya, warga menggelar pertunjukan wayang kulit selama dua malam berturut-turut.
Selamatan tenongan di Dusun Pagerotan memiliki makna filosofis yang dalam.
Menurut para sesepuh desa, tradisi ini berasal dari istilah "angsum daharan," yang artinya berbagi makanan.
Pada prosesi ini, warga berkumpul di Makam Sikramat untuk berdoa kepada Mbah Sunan Puger, leluhur desa.
Doa dipanjatkan agar Pagerotan senantiasa dilindungi dan diberkahi.
"Selain rasa syukur, tradisi ini mengajarkan gotong royong dan kebersamaan. Makanan yang disajikan dalam tenong boleh dinikmati bersama tamu dan warga," kata Samsul Mudhasil, penggiat sejarah Desa Pagerejo.
Tak hanya gelar tenong, dalam tradisi nyadran di desa tersebut juga seluruh warga akan datang berziarah ke makam Sikramat, yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan Mbah Sunan Puger, tokoh penting dalam sejarah Pagerotan.
Ia dikenal sebagai pejuang melawan penjajah Belanda sekaligus penyebar ajaran Islam bercorak kejawen di desa itu.
"Beliau diyakini masih memiliki hubungan darah dengan Keraton Jogjakarta dan merupakan kakek dari Pangeran Sundoro atau Sultan Hamengkubuwono II," ungkap Samsul.
Nama Sundoro diberikan karena sang pangeran menghabiskan masa kecilnya di lereng Gunung Sindoro. (git/aro)
Editor : H. Arif Riyanto