RADARMAGELANG.ID, Wonosobo– Dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) pada April-Oktober 2023 angka stunting di Kabupaten Wonosobo 29 persen.
Padahal berdasarkan penimbangan Februari 2024, angka stunting 15,26 persen. Tahun 2024 merupakan periode terakhir pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting, dengan target nasional 14 persen.
Terkait hal itu Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo, Jaelan menduga pengambilan blok survei belum tercampur sempurna.
Blok survei 2023 dari 74 desa, angka E-PPGBM Februari justru turun sekitar 14 persen. Namun tapi SKI-nya melejit naik 29,2 persen.
“Kita bicara bukan pada angka tapi pada substansi. Kata kuncinya, upaya pencegahan dan intervensi terus dilakukan secara maksimal dengan berbagai program,” paparnya dalam rembuk stunting di Pendopo Kabupaten, Kamis (2/5/2024).
Menurutnya, rembuk stunting adalah pemetaan program/kegiatan, cakupan dan prevalensi sebaran stunting.
Hal ini, diperlukan dalam analisis dan menentukan lokasi prioritas penanganan stunting di masing-masing desa.
Pada kesempatan tersebut Bupati Afif Nurhidayat meminta tim percepatan penurunan stunting bekerja lebih keras dalam mencapai target.
“Kolaborasi luar biasa sudah kita laksanakan di tahun 2023. Tepatnya pada intervensi gizi spesifik, melalui program Sobo Hebat Sedulur Selawase pada November 2023, yang memberikan hasil cukup signifikan," ujarnya.
Menurut Afif, intervensi yang perlu dikejar adalah pencegahan agar tidak ada lagi balita stunting baru.
Sementara Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Wonosobo Dyah Retno Sulistiyowati menjelaskan, Rembuk Stunting kali ini menjadi sarana evaluasi kegiatan stunting yang sudah dilakukan pada 2023. Dan merencanakan yang akan dilakukan di tahun 2024 dan 2025. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo