RADARMAGELANG.ID, Wonosobo--Sebanyak enam kepala keluarga (KK) warga Dusun Kemiri, Kelurahan Pegerkukuh, Kabupaten Wonosobo harus mengungsi setelah rumahnya rusak diterjang banjir bandang, Jumat (8/12/2023) lalu.
Warga masih bertahan di pengungsian lantaran enam rumah mereka rusak parah dan belum diperbaiki.
Miswan, salah satu korban banjir bandang mengaku, saat ini masih tinggal bersama istrinya di tenda pengungsian. Ia bersama 10 orang lainnya yang terpaksa tinggal di tenda yang disediakan Pemkab Wonosobo.
"Kami terpaksa tinggal di tenda pengungsian di lapangan Pagerkukuh, karena rumah kami rusak parah. Total ada 12 jiwa di tenda pengungsian," katanya saat ditemui di rumahnya, Selasa (12/12/2023).
Ia tidak tahu akan sampai kapan tinggal di pengungsian. Sebab, kondisi rumahnya hingga Selasa (12/12/2023) masih belum bisa ditempati. Pintu dan jendela hanyut terbawa banjir bandang. "Cuma ada satu pintu yang masih terpasang. Sisanya ikut terbawa banjir," ujarnya.
Miswan menyebut banjir bandang yang terjadi lima hari lalu itu dianggap paling mengerikan sejak ia tinggal di kampung tersebut. "Karena tembok penahan airnya jebol. Banjir masuk ke rumah-rumah warga di sini," katanya.
Menurutnya, saat hujan deras, air biasa masuk ke rumah warga. Tapi tidak pernah separah saat banjir Jumat lalu. Sebab, ketinggian air mencapai satu setengah meter lebih.
"Bapak, ibu dan istri saya yang di dalam rumah sampai naik meja dapur dan pegangan atap rumah biar tidak ikut terseret arus," akunya.
Miswan berharap agar tanggul yang jebol serta enam rumah yang mengalami kerusakan bisa segera diperbaiki. Sehingga dia bersama istri dan orang tuanya bisa kembali menempati rumahnya.
Kepala Bidang Sumberdaya Air DPU PR Kabupaten Wonosobo Budi Setiono menjelaskan, banjir bandang yang terjadi di Sungai Semagung beberapa waktu lalu itu dimungkinkan karena adanya curah hujan yang cukup ekstrem.
"Elevasi air terus naik, sehingga membuat dinding penahan tak kuat hingga jebol," terangnya.
Saat ini, pihaknya baru bisa melakukan evakuasi sementara bagi korban terdampak banjir bandang. Sembari melakukan identifikasi secara detail mengenai penyebab banjir di wilayah tersebut.
"Kita sudah berkoordinasi dengan pihak BBWS Opak Serayu dan mendapat kiriman 1.000 karung untuk membuat tembok sementara," jelasnya.
Ia juga belum bisa memastikan apakah ada anggaran di tahun ini untuk membuat tanggul ulang di lokasi tersebut. Sebab, kejadian bencana itu, menurutnya, sudah masuk di akhir tahun.
"Penganggaran kan tidak bisa dilakukan secara mendadak," tandasnya. (git/aro)
Editor : H. Arif Riyanto