RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Puluhan Bhabinkamtibmas di jajaran Polres Wonosobo dilatih jurnalistik, Jumat (6/10/2023). Latihan tersebut dilakukan polres untuk meningkatkan kapasitas para babin dalam menulis kejadian di masyarakat.
Kapolres Wonosobo AKBP Eko Novan Prasetyo Puspito mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan percaya diri bagi bhabinkamtibmas.
Ia menyebut para bhabin adalah ujung tombak kepolisian di masyarakat. Sebab mereka dianggap paling dekat dan menyentuh langsung dengan berbagai masalah yang ada di setiap desa.
"Kalian adalah kapolres di desa masing-masing. Karena kalian yang bersentuhan langsung dengan masyarakat," terang kapolres saat memberikan sambutan dalam pelatihan jurnalistik di gedung serbaguna polres.
Peran bhabin di masyarakat dianggap penting. Untuk itu mereka memiliki peran yang vital untuk menyampaikan sejumlah informasi kepada masyarakat secara jelas. Bukan hanya sebagai komunikator yang bagus, juga sebagai penulis yang andal.
"Tumbuh tidaknya kepercayaan masyarakat itu tergantung di bhabinkamtibmas. Karena langsung berhubungan dengan masyarakat," tandasnya.
Untuk itu, sebanyak 92 Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) dilatih untuk mengikuti belajar cara menulis dengan baik dan benar sesuai kaidah jurnalistik.
"Jadi setelah adanya pelatihan ini, diharapkan kemampuan dan kapasitas kita dalam menyusun, menulis laporan dari kegiatan bisa lebih berkualitas," katanya.
Dalam proses pelatihan itu, polres menggandeng Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Kabupaten Wonosobo. Para bhabin dilatih cara munulis, merekam gambar melalui gagdet.
Ketua Komunitas Jurnalis Wonosobo, Muharno Zarka menjelaskan setiap orang memiliki kemampuan menulis yang baik. Sebab menulis menurutnya telah menjadi bagian dari keseharian yang dilakukan.
"Saya yakin Pak Bhabin ini sudah memiliki modal untuk bisa menulis. Hanya saja, agar tulisan itu menjadi bernilai, harus menggunakan struktur pemberitaan agar lebih bagus saat disampaikan kepada masyarakat," katanya.
Ia menjelaskan menulis itu hanya proses mengubah dari kebiasaan berkomunikasi secara langsung menjadi tulisan. Maka rumus dasar yang digunakan paling banyak digunakan dalam praktik menulis itu menggunakan 5W plus 1H. "Dan setiap peristiwa atau kejadian dan kegiatan sehari-hari di masyarakat bisa disampaikan lewat tulisan," tandasnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo