Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Lestarikan Wayang Othok Obrol Khas Wonosobo

Lis Retno Wibowo • Rabu, 22 Maret 2023 | 05:27 WIB
Pergelaran wayang othok obrol di Balai Desa Selokromo, Wonosobo Jumat (17/3/2023) malam. (IST)
Pergelaran wayang othok obrol di Balai Desa Selokromo, Wonosobo Jumat (17/3/2023) malam. (IST)
RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Pergelaran wayang othok obrol khas Wonosobo kembali digelar. Pementasan wayang untuk melestarikan warisan budaya yang terancam punah.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo, Agus Wibowo popularitas kesenian wayang othok obrol meredup seiring dengan arus globalisasi dan perkembangan media sosial. Di sisi lain, wayang itu dinilai terlalu pakem dan tidak mampu menyesuaikan dengan tuntutan zaman, sehingga perlahan-lahan kehilangan pasarnya.

“Guna melestarikan seni dan budaya di Wonosobo, saya sudah menghimpun seluruh event-event skala kecil hingga internasional untuk kita suguhkan dan tampilkan. Event ini jangan berhenti di tahun ini, tetapi lebih dikemas lagi sesuai aspek pangsa pasar yang ingin dituju sehingga bisa menjadi event budaya yang bisa menarik wisatawan,” kata Agus saat menghadiri pergelaran wayang othok obrol, Jumat malam (17/3/2023) di Balai Desa Selokromo.

Pelestarian wayang othol obrol penting sebab saat ini telah lolos verifikasi kajian Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).  Selain beberapa tradisi lain dari Wonosobo yang telah terdaftar sebagai WBTB. Misalnya ruwatan rambut gimbal pada 2016, hak-hakan pada 2018, serta tari topeng lengger dan bundengan pada 2020.

Sementara itu, pegiat budaya sekaligus ketua panitia Naniek Widayat menjelaskan, dibanding wayang gagrak (gaya) Mataram pada umumnya, wayang othok obrol mempunyai ciri khas tersendiri. Antara lain sunggingan tokoh wayang dan suluk dalang yang berbeda, ketiadaan sinden atau wiraswara. Gamelan yang tidak lengkap atau hanya tujuh alat gamelan, notasi gamelannya yang lebih sederhana, dan biasanya lebih banyak menggelar lakon ruwatan.

“Warisan pedalangan yang telah bertahan selama enam generasi ini terancam tidak ada penerusnya. Calon dalang othok obrol menghadapi godaan berupa gagrak lain yang lebih populer. Meski demikian, upaya pelestarian terus dilakukan. Kami berharap semakin banyak masyarakat mengenal wayang othok obrol dan pelestarian kepada generasi muda berjalan dengan baik,” jelasnya.

Menurut Naniek, lakon wayang obrol tidak berat untuk dinikmati. Ini hampir sama dengan wayang purwa. Karena wayang othok obrol membawakan kisah dari Mahabarata dan Ramayana, dengan lakon-lakon carangan. Seperti Murti Serat, Raja Kèngsi, Andhaliretna, atau yang familiar dengan selera rakyat seperti Semar Supit dan Semar Cukur.

Tidak mudah menurutnya untuk tetap melestarikan warisan budaya ini. Namun pihaknya terus berupaya bersama Pemerintah Selokromo dan paguyuban Jetayu (Jejeg, Cetha, Rahayu) berusaha nguri-nguri wayang othok obrol.

"Agar bisa memiliki value yang menarik, acara ini kita awali dengan ruwat sukerto, pergelaran wayang, dan larung rikma sukerto,” pungkasnya. (git/lis)

  Editor : Lis Retno Wibowo
#wayang othok obrol wonosobo